Satu Indonesia, Berjuta-juta Places-nya
//EMPTY DIV!!
//EMPTY DIV!!
//EMPTY DIV!!

Pantai Losari, Makassar

Rabu, 29 Oktober 2014 23:14:08
photo: heri purwata/indoplaces

Tempat terbuka itu banyak di Indonesia. Tapi 'ruang terbuka' atau 'ruang publik' (baca: tempat terbuka pelat merah alias bikinan pemerintah) konon masih kurang. Dan entah mengapa, dan mungkin ironis, orang Indonesia kok rindu sekali dengan ruang publik pelat merah. Walhasil, ketika di penghujung 2012 lalu mantan Wapres Jusuf Kalla meresmikan 'ruang publik' Pantai Losari, masyarakat Indonesia --bukan cuma warga Makassar dan sekitarnya-- menyambut gembira. Pantai Losari yang memang sudah top pun menjadi semakin top. Amat mudah sekarang ini menjumpai orang senang dan bangga bisa berfoto selfie berlatar belakang tulisan besar 'Pantai Losari'

Seperti apa sih sebenarnya sosok Pantai Losari? Lain orang, lain pula cara mendeskripsikan Pantai Losari. Sebagian orang suka menyebutnya sebagai kawasan pusat jajanan makanan laut dan makanan tradisional Makassar, terutama Pisang Epek. Sebagian yang lain senang menyebutnya sebagai tempat kongkow. Yang lain lagi, dengan lebih bergaya menyebutnya sebagai contoh bagi sosok 'waterfront city'. Dan kalau JK alias Jusuf Kalla yang diminta bercerita tentang pantai ini, maka jawaban yang keluar selalu sama: ''Di Indonesia, hanya di Pantai Losari Anda bisa menikmati sunset dan sunrise dari titik yang sama.''

Pantai Losari edisi pelat merah secara resmi hadir ketika JK meresmikannya pada Jumat, 21 Desember 2012. Ketika itu yang diresmikan adalah satu dari tiga anjungan atau pelataran yag diniatkan bakal ada, yakni Anjungan Pantai Losari, yang sekarang jadi lokasi favorit untuk foto selfie maupun foto rombongan. Yang empunya proyek tak lain Pemerintah Kota Makassar. Selain meresmikan Anjungan Pantai Losari, JK juga meresmikan 'masjid terapung' berlantai tiga yang diberi nama masjid 'Amirul Mukminin'. Masjid berkapasitas 400 orang ini dibangun dengan dana Rp 9 miliar yang didapat dari kocek JK dan para tokoh Sulawesi Selatan lainnya.

Peta & Citra Satelit

Anjungan Metro

Ruang rublik di tepi pantai Makassar ini resminya terdiri dari empat anjunngan. Yang satu adalah Anjungan Metro, yang kalau dari satelit terlihat berbentuk segitiga atau mata gergaji, berada di sebelah selatan dan menghadap ke utara atau ke Masjid Amirul Mukminin, dan di tepi jalan menuju TransStudio, Tanjung Bunga, serta kawasan properti lain milik Lippo Group. Tiga anjungan lainnya adalah yang menghadap ke timur (ke arah Pulau Kalimantan atau ke arah zona Lippo Group) yang disatupaketkan dan dikenal dengan nama Pantai Losari. Ketiga anjungan itu adalah: Anjungan Pantai Losari, anjungan yang ada tulisan besar Pantai Losari; Anjungan Toraja-Mandar, dan Anjungan Bugis-Makassar.

Berbeda dari Anjungan Metro yang mengambil pola mata gergaji, ketiga anjungan di Pantai Losari mengambil pola busur atau setengah lingkaran kurang. Garis pantai yang digunakan untuk ketiganya berpanjang sekitar 800 meter. Anjungan utama, Anjungan Pantai Losari, diameter lingkarannya, sekaligus garis pantainya, sekitar 150 meter. Sisa garis pantai lainnya dipergunakan untuk dua anjungan lainnya.

Kesamaan dari keempat anjungan di tepi pantai itu adalah sama-sama tidak ada pasir pantainya. Semuanya serba beton.

Anjungan Bugis-Makassar

Seperti sudah disebut tadi, pada 2012 JK hanya meresmikan Anjungan Pantai Losari saja. Dua anjungan lainnya saat itu belum selesai. Baru setahun kemudian Anjugan Bugis-Makassar diresmikan. Juga, pada 2013 lalu, kawasan itu ketambahan Tugu Adipura yang dibangun dengan biaya Rp 1,5 miliar. Dan akhirnya, pada 11 Januari 2014 lalu, Walikota Makassar meresmikan anjungan terakhir: Anjungan Toraja-Mandar. Selanjutnya, hingga akhir tahun ini, Pemkot Makassar berniat melakukan pekerjaan finishing di seluruh area Pantai Losari.

Secara keseluruhan, Pemkot Makassar perlu 8 tahun untuk menuntaskan proyek Pantai Losari. Proyek ruang publik edisi pelat merah ini, atau revitalisasi Pantai Losari, sudah dimulai sejak 2006. Areal seluas 11 hektar yang menjadi lokasinya merupakan hasil reklamasi, dengan menempatkan timbunan sebanyak 600.000 meter kubik. Pada 2008, proyek sempat tersendat karena pengetatan anggaran. Namun sejak 2009 bisa dilanjutkan lagi sampai sekarang. Adapun total dana yang dikeluarkan untuk seluruh proyek itu tercatat sudah mencapai Rp 39,75 miliar.