Indonesia meets Google Places and Facebook Places
RSUD Kota Bekasi, Bekasi Selatan, Kota Bekasi
Minggu, 23 April 2017 02:24:03
photo: rsud kota bekasi / republik endonesia
Ketua DPR-RI Ade Komarudin bertandang ke RSUD Kota Bekasi pada 9 Juni 2016. Ia senang melihat kondisi rumah sakit pelat merah itu. ''Rumah sakit di sini bersih sekali, seperti RS swasta. Membuat orang nyaman. Jadi, orang baru masuk saja, sudah sembuh,'' kata Akom, sapaan singkat sang anggota dewan. Sang tuan rumah, Dirut RSUD Kota Bekasi Dr dr Titi Masrifahati MKM, pasti gembira kinerja rumah sakitnya diapresiasi. Sayang, beberapa bulan kemudian, kedua tokoh ini sama-sama harus dicopot dari jabatannya. Walikota Bekasi Rakmat Effendi mencopot dirut RSUD Kota Bekasi pada 24 Agustus 2016, tanpa mengangkat dirut baru. Sementara Akom dilengserkan pada 30 November 2016 karena pelanggaran kode etik dan diganti oleh Setyo 'Papa Minta Saham' Novanto.

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bekasi, atau yang legalnya bernama RSUD Chasbullah AM Kota Bekasi, sekarang sudah punya direktur baru: dr Pusporini. Mantan Kabid Yankes Dinas Kesehatan Kota Bekasi ini resmi menjabat mulai 1 November 2016, setelah menggungguli 2 dokter lain, dr Ellya Niken Prastiwi dan dr Hindar Jaya, dalam open-bidding jabatan yang digelar Pemkot Bekasi. Dalam perbincangan dengan wartawan di awal masa jabatannya, dr Puspori berjanji akan memperbaiki layanan RSUD. Terutama soal layanan yang paling banyak dikeluhkan masyarakat: pelayanan farmasi dan stok obat yang tidak maksimal. Langkah kongkrit yang langsung ditempuhnya adalah dengan mengganti pejabat Instalasi Farmasi dan jajarannya: kepala gudang, kepala bagian pelayanan, dan kepala bagian mutu.

Perkara ketersedian obat ini pula yang tahun lalu 'disebut-sebut' jadi alasan pencopotan Titi Masrifahati, yang menjadi dirut RSUD Kota Bekasi sejak 2011. Saat itu ramai diberitakan temuan Inspektorat Kota Bekasi tentang utang RSUD Kota Bekasi pada awal 2016 yang mencapai Rp 1 miliar kepada distributor obat. Ada juga yang menyebut Rp 1,8 miliar. Karena ada utang, pasokan obat pun jadi tersendat. Kekurangan dana? Tidak juga. Pihak Inspektorat sendiri melakukan audit atas permintaan Walikota Bekasi, karena saat melakukan sidak di awal tahun, ia menemukan adanya sisa anggaran pengadaan obat tahun 2015 sebesar Rp 6,5 miliar. Sisa anggaran itu besar? Tidak juga. Nilai itu sedikit lebih besar dari anggaran pembelian obat bulanan yang Rp 5 miliar. Pada 2016 lalu, total anggaran pembelian obat selama setahun tercatat sebesar Rp 50 miliar.

Ada korupsi pengadaan obat? Kelihatannya, setelah dirut diganti, persoalan dianggap selesai. Tak ada kasus korupsi yang membuntutinya. Lantas, Dr dr Titi Marifahati MKM sekarang kemana? Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya ini, bersamaan dengan pencopotannya, langsung alih tugas menjadi Staf Ahli bidang Politik dan Hukum Pemerintah Kota Bekasi. Kok menerjuni bidang politik? Ingin mengikuti jejak Ade Komarudin? Entahlah. Yang pasti: ibu dokter ini, selain menyandang gelar Master Kesehatan Masyarakat (S2 - Fakultas Kesehatan Masyarakat UI), juga menyandang gelar Doktor Kebijakan Publik (S3 - Fakultas Ilmu Sosial Universitas Pasundan).

Yang juga pasti, Titi Masrifahati meninggalkan jabatan dirut RSUD dr Chasbullah AM Kota Bekasi, jabatan basah yang dulu mengalirkan gaji Rp 75 juta per bulan. Serius? Itu kata Rommy Hermawan, anggota DPRD Kota Bekasi asal Parta Demokrat, pada Januari 2015. Menurut Titi, yang memberikan tanggapan beberapa hari kemudian, tudingan anggota dewan itu asal ngomong. Yang benar, total take home pay sebagai dirut RSUD Kota Bekasi hanya sebesar Rp 53,4 juta. Rinciannya: sebagai PNS, gaginya Rp 5,9 juta per bulan, berasal dari APBN. Lalu ada tunjangan daerah sebesar Rp 12 juta dari APBD. Yang terbesar adalah uang renumerasi dari BLUD (badan layanan umum daerah) RSUD Kota Bekasi sebesar Rp 35 juta.
RSUD Kota Bekasi - RSUD dr Chasbullah AM Kota Bekasi
Jl. Pramuka No 55
Kelurahan Margajaya - 17141
Kecamatan Bekasi Selatan
Kota Bekasi
Jawa Barat

Tel: 021-8841005
Fax:021-8853731

Website: www.rsudkotabekasi.net - www.rsudchasbullah.com
RSUD Kota Bekasi punya sejarah panjang. Perjalanannya dimulai pada zaman Belanda dulu, 1939, ketika Bekasi masih menjadi bagian dari Karesidenan Jatinegara. Ketika itu dia lahir sebagai sebuah balai kesehatan berukuran 6x18 meter, yang berdiri di atas lahan 400 meter. Di zaman pendudukan Jepang, 1942, statusnya dinaikkan menjadi poliklinik. Setahun setelah Indonesia merdeka, ia menjadi RS Pembantu. Di tahun itu pula statusnya kemudian naik lagi menjadi RS Kabupaten Bekasi. Sepuluh tahun kemudian, 1956, namanya diubah menjadi RSUD Kabupaten Bekasi. Dalam berbagai peraturan daerah, termasuk Peraturan Walikota Bekasi No 58 tahun 2016 tentang Tata Hubungan Pemilik, Dewan Pengawasa, Direksi dan Staf Medis Rumah Sakit Umum Daerah dr Chasbullah AM Kota Bekasi, tahun 1956 ini dicatat sebagai tahun kelahiran resmi RSUD Kota Bekasi.

Saat wilayah Bekasi sudah dipisah menjadi Kabupaten Bekasi dan Kotamadya Bekasi, pada 1999, pengelolaan RSUD Kabupaten Bekasi diserahkan kepada Pemerintah Kotamadya Bekasi. Tahun berikutnya, saat Kotamadya Bekasi sudah berlabel Kota Bekasi, namanya berganti menjadi RSUD Kota Bekasi. Pada 2001, Pemkot Bekasi menetapkan RSUD sebagai unit swadana. Di era Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), pada 2009 RSUD Kota Bekasi pun ditetapkan sebagai BLUD alias menjadi lembaga pelayanan publik yang boleh menjalankan praktek bisnis dalam memberikan pelayanannya. Dan akhirnya, di era RS pelat merah ramai-ramai berganti nama dengan menyematkan nama tokoh, lewat Keputusan Walikota Bekasi Nomor 445/Kep.332-RSUD/VI/2016, nama RSUD Kota Bekasi diubah menjadi RSUD dr. Chasbullah AM Kota Bekasi.

Meski nama resmi sudah berganti, publik masih lebih suka menggunakan nama lama yang lebih simpel: RSUD Kota Bekasi. Sang rumah sakit pun begitu. Gerbang rumah sakit dan gedung utamanya masih menggunakan label RSUD Kota Bekasi. Gedung yang lebih baru sudah diberi label RSUD dr Chasbullah Abdulmadjid Kota Bekasi. Kenapa bukan Chasbullah AM seperti yang tertera di Keputusan Walikota? Mengapa bukan Chasbullah Abdul Madjid, kalau singkatan AM mau dipanjangkan? Ya tidak tahu. Yang jelas, nama tokoh yang dirujuk, dalam sejarah sang rumah sakit, biasa ditulis sebagai dr Chasbullah Abdulmadjid: kata Abdul dan kata Madjid digabung. Sang tokoh tercatat pernah memimpin rumah sakit ini pada periode 19701971, saat masih bernama RSUD Kabupaten Bekasi.

Sebagai unit bisnis di sektor kesehatan, atau BLUD, baguskah kinerja RSUD dr Chasbullah AM Kota Bekasi? Bagus, katanya. Tahun lalu, 2016, ketika banyak SKPD (Satuan Perangkat Kerja Daerah) di lingkungan Pemerintah Kota Bekasdi gagal mencapai target Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang ditetapkan, 2 SKPD berhasil melampaui target PAD. Yang pertama, Dinas Kesehatan, yang bisa meraih PAD Rp 58 miliar, lebih besar dari targetnya yang Rp 53,9 miliar. SKPD yang kedua tak lain adalah RSUD Kota Bekasi, yang sukses menghimpun PAD sebesar Rp 159,2 miliar, atau melampaui targetnya yang Rp 150,8 miliar. Sebagai pembanding, pada 2014 RSUD Kota Bekasi ditargetkan menyumbang PAD sebesar Rp 84 miliar.
Di tahun-tahun mendatang, boleh jadi kinerja bisnis RSUD Kota Bekasi bakal lebih bagus lagi. Soalnya, bertepatan dengan HUT Kota Bekasi pada 10 Maret 2017, Walikota Bekasi Rahmat Effendi meresmikan gedung baru untuk RSUD Kota Bekasi: gedung 9 lantai yang tahun lalu proses pembangunannya ikut ditinjau Ketua DPR Ade Komarudin. Mengapa baru akan mendatangkan untung di tahun-tahun mendatang? Soalnya, yang diresmikan Pak Walikota memang baru gedungnya saja. Gedung kosong.

Gedung baru yang lahannya terpisahkan oleh sungai ini, yang akan punya pintu masuk sendiri di Jalan Mayor Oking, dibangun dengan anggaran tahun jamak (APBD 2015 dan 2016) sebesar Rp 102 miliar. Berbeda dari gedung utama yang masuk wilayah Kelurahan Magajaya, Kecamatan Bekasi Selatan, area gedung baru masuk wilayah Kelurahan Margahuyu, Kecamatan Bekasi Timur. Gedung baru ini bertetanggaan dengan mal Bekasi Junction.

''Kemungkinan besar gedung baru ini akan dioperasikan pada September 2017 mendatang,'' kata Dirut RSUD Kota Bekasi dr Pusporini. Dan untuk mewujudkan kemungkinan itu, lanjut Ibu Dirut, dibutuhkan dana sekitar Rp 50 miliar. Dana itu akan dipakai untuk membeli alat kesehatan, interior, meubeler, dan alat tulis kantor. Tenaga dokter dan tenaga medisnya akan mendayagunakan personil yang sudah ada. Soal peruntukkannya, gedung baru akan dipakai memberikan layanan sub-spesialis: kesehatan syaraf, paru-paru, anak, dan rehabilitasi medik.

Soal gedung RSUD Kota Bekasi yang diresmikan tapi tak langsung beroperasi, bukanlah cerita baru. Pada Maret 2014, Pak Walikota juga meresmikan gedung 8 lantai yang dibangun dengan anggaran Rp 98 miliar. Hingga pertengahan tahun, bangunan belum kunjung dipakai. ''Belum ada mebelnya'' kata Dr dr Titi Marifahati MKM, yang saat itu masih jadi dirut RSUD Kota Bekasi. Lelang pengadaan mebel, tambahnya, baru akan dilangsungkan pada bulan Juli. Nilai lelangnya hanya Rp 1 miliar.
Places TerdekatKm
Masjid Agung Al-Barkah, Alun-alun Kota Bekasi 0,184
Bekasi Junction, Ir H Juanda, Kota Bekasi 0,220
LotteMart Hypermarket, Bekasi Junction, Kota Bekasi 0,259
Bekasi Cyber Park 1,175
Mega Bekasi Hypermall 1,205
Mal Metropolitan, Bekasi Barat 1,290
Living Plaza, Mall Satu Rasa di Bekasi Barat 1,430
Ace Home Center - Living Plaza Bekasi 1,443
LotteMart Wholesale Bekasi, Bekasi Selatan, Kota Bekasi 1,850
Bekasi Square 1,884
Hotel TerdekatKm
Amaroossa Grande Bekasi Hotel 1,371
Amaris Hotel - Bekasi Barat 1,625
Transit Hotel, Bantargebang, Kota Bekasi 9,101
Hotel Fortuna, Jatiwaringin, Kota Bekasi 10,175
Park Hotel, Hotel Pembangunan Perumahan 13,850
Dafam Teraskita Hotel, Cawang, Jakarta Timur 13,968
Puri Mega Hotel, Rawasari, Jakarta Pusat 16,323
Harris Hotel - Tebet 17,022
Sunlake Hotel, Danau Sunter Hotel, Jakarta Utara 17,057
Grand Cempaka Business Hotel 17,227
Berita Kota Bekasi
Pemkot Bekasi Batal Berikan Dana Hibah Pendidikan ke Jawa Barat
Pemkot Bekasi Alokasikan Beasiswa Rp 2 Miliar Bagi yang Masuk Unpad
Pemkot Bekasi akan Restorasi Kampung Cina
Innalillah, Prof Tutty Alawiyah Meninggal Dunia
Keluarga Bantah Kabar Tuti Alawiyah Meninggal
JEC Resmi Buka Klinik Mata Utama JEC di Cibubur
Bekasi Paling Rawan Perampokan Minimarket
Hotel Bintang 4 Ciputra Kini Ada di Cibubur
Di Jatiwaringin, Indomaret dan Alfamart Sudah Lama Tak Jual Bir
Ciputra Group Siapkan Pengembangan Mall Cibubur 2