Indonesia meets Google Places and Facebook Places
Republika, Warung Buncit, Jakarta Selatan
Kamis, 21 Juli 2016 10:58:38
photo: che/indoplaces
Harian Umum Republika resmi terbit pertama kali pada 4 Januari 1993. Tapi sejak pertengahan 1990, sudah banyak wartawan terlihat sibuk di gedung yang bernama asli Puri Mandiri ini, di Jalan Warung Buncit 37, Jakarta Selatan. Bersama sejumlah 'wartawan senior' majalah Tempo dan Swa yang 'dibajak', mereka menyiapkan koran yang akan terbit pada awal 1991. Bukan Republika tentunya, melainkan 'pendahulu'-nya: Berita Buana. Saat itu, di era SIUPP masih sulit diperoleh, koran klasik Berita Buana diambil-alih manajemennya oleh Ika Muda Group --milik Soetrisno Bachir, konglomerat asal Pekalongan yang belakangan pernah jadi Ketua Umum Partai Amanat Nasional-- untuk diperbarui. Berita Buana versi baru pun, di bawah payung PT Berita Buana Press, akhirnya terbit dan bisa berjalan setahun lebih. Akibat kisruh redaksi dan manajemen, sang koran harus kembali ke pangkuan manajemen lama.

Untunglah Soetrisno Bachir terbilang konglomerat: koran Berita Buana melayang, awak redaksi dan karyawan lain di Warung Buncit 37 tak ikut diistirahatkan. Gedung kantor pun tak pusing biaya sewa, karena memang kepunyaan Soetrisno Bachir. Beberapa wartawan yang menganggur lantas difungsionalkan di media lain yang ketika itu jadi milik Ika Muda Group, semisal majalah Infobank dan Prospek. Sebagian besar lainnya cukup datang, menggesek mesin absensi, dan terima gaji hampir sepanjang tahun 2002. Untuk 'mengisi waktu', berbagai proyek 'menangani' media lain pun digarap, mulai dari tabloid, majalah keluarga, majalah Islam, sampai majalah internal. Termasuk akhirnya, menyiapkan Republika, koran milik Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI). Ini bisa terjadi karena kebetulan Soetrisno dan sahabatnya di lingkungan Opek (Orang Pekalongan), semisal tokoh LSM Adi Sasono, menjadi bagian dari ICMI. Juga karena banyak sosok yang berseliweran di Warung Buncit 37 merupakan bagian dari jaringan cendekiawan Muslim 'tempo doeloe' yang berasal dari berbagai LSM di Indonesia (Dawam Rahardjo dan kawan-kawan).

Republika sebagai 'koran ummat' atau 'koran Muslim' akhirnya terbit. Semula berbadan hukum Yayasan Abdi Bangsa, tapi kemudian diganti menjadi PT Abdi Bangsa, karena hendak 'go-public secara terbatas' dengan menjual lembaran saham ke ummat Islam se-Indonesia: satu orang hanya boleh satu lembar saham. Hampir seratus persen wartawan eks-Berita Buana versi Warung Buncit, dan juga karyawan bagian lainnya, ikut bergabung ke Republika. Hal ini mudah dilakukan karena Republika menjadikan Puri Mandiri sebagai kantor redaksinya, plus mendayagunakan segala sarana penerbitan yang memang sudah ada. Dengan kata lain, para wartawannya sekedar ganti kartu nama. Parni Hadi, mantan Pemred Kantor Berita Antara, dipercaya jadi pemimpin redaksi. Haidar Bagir, bos penerbit buku Mizan, jadi pemimpin perusahaan. Senior lain yang ikut antara lain Zaim Uchrowi (Tempo), Abdurachman (Swa) dan Farid Gaban (Gatra). Salah seorang senior lainnya, Budiono Darsono (Tempo), memutuskan untuk jalan sendiri, membuka kantor di Stadion Lebak Bulus, dan merealisasikan Detik.com yang sudah disiapkannya selama 'periode nganggur' di Warung Buncit 37. Sejumlah warga Warung Buncit 37 diajak serta.
Republika - PT Republika Media Mandiri
Puri Mandiri
Jl. Warung Buncit 37 (Jl. Warung Jati Barat)
Kelurahan Pejaten
Kecamatan Pasar Minggu
Jakarta Selatan - 12510
DKI Jakarta

Tel: 021-7803747
Fax: 021-7800649

Website: www.republika.co.id


Link
PT Mahaka Media Tbk - www.mahakamedia.com
PT Pustaka Abdi Bangsa - www.bukurepublika.id
Dompet Dhuafa - www.dompetdhuafa.org
Pada tahun 2000, Republika butuh suntikan kapital. Atas restu BJ Habibie dan ICMI, Muhammad Teddy Thohir, salah seorang pemilik PT Astra International Tbk dan bos TNT Group, dipercaya untuk menanamkan modalnya. Teddy Thohir lantas 'menugaskan' anaknya, Erik Thohir, yang mantan pemain basket klub Satria Muda (Jakarta) dan sudah biasa bermain media massa elektronik (antara lain JakTV dan radio Prambors) serta bisnis sport lewat Mahaka Group, untuk menanganinya. Republika lantas di gabung ke Mahaka Group? Sebaliknya.

PT Abdi Bangsa 'go-public sunguhan' pada 2002 menjadi PT Abdi Bangsa Tbk: nasib jutaan lembar saham individual milik ummat pun tak jelas juntrungannya. Pasca go-public, perusahaan mulai ditata. Pada 2003, dua anak perusahaan dibentuk: PT Republika Media Mandiri menjadi perusahaan yang menerbitkan koran Republika; dan divisi penerbitan buku disulap menjadi PT Pustaka Abdi Bangsa. Ditahun-tahun berikutnya, Erick Thohir mulai menggabungkan berbagai perusahaannya yang berada di bawah Mahaka Group (PT Indopac Usaha Prima) ke dalam perusahaan publik PT Abdi Bangsa Tbk. Dan akhirnya, sebelum kembali megap-megap dan harus menerima suntikan dana dari Garibaldi 'Boy' Thohir, bos Adaro Group yang juga abang Erick Thohir, pada Mei 2010 nama PT Abdi Bangsa Tbk diubah menjadi PT Mahaka Media Tbk. Adapun kode sahamnya masih tetap yang lama: ABBA, singkatan dari Abdi Bangsa.

Sebagai induk, PT Mahaka Media Tbk sudah tak berkantor lagi di gedung Puri Mandiri, Warung Buncit 37. Kantor yang berada di persimpangan Jalan Warung Buncit (atau nama barunya: Jalan Warung Jati Barat) dengan Jalan Raya Pejaten ini sekarang berseberangan dengan, tapi terpisahkan oleh taman perempatan, mall Pejaten Village milik Lippo Group. Yang bertahan di gedung berlantai empat, tanpa lift, ini hanya PT Republika Media Mandiri dan PT Pustaka Abdi Bangsa. Salah satu anak kebanggaan harian Republika, 'Dompet Dhuafa Republika', atau biasa disebut 'Dompet Dhuafa' saja, sudah sejak zaman pra-Erick Thohir memilih berkantor di kawasan Ciputat. Erick Thohir sendiri, selain sibuk mengurus klub sepakbola AC Millan, sudah meninggalkan keeksekutifannya di PT Mahaka Media Tbk, dan sekarang bergabung dengan Anindya Bakrie di PT Visi Media Asia Tbk.