Satu Indonesia, Berjuta-juta Places-nya
//EMPTY DIV!!
//EMPTY DIV!!
//EMPTY DIV!!

Kilang LNG Tangguh, Kabupaten Teluk Bintuni

Minggu, 28 Juni 2015 19:51:03
photo: pemkab teluk bintuni

Dia yang memikirkan pembangunan kilang LNG-nya, dia juga yang memikirkan pemasaran LNG-nya. 'Dia' yang dimaksud tak lain adalah pemerintah Indonesia. Maret 2015 lalu, Menteri ESDM sibuk membereskan soal pembiayaan 'proyek molor' pembangunan Train III Kilang LNG Tangguh. Sebulan kemudian, BP Berau Limited, sang pengelola kilang di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, itu berkicau kalau LNG 'calon' hasil produksi Train III masih kekurangan pembeli. Buntutnya, bulan Juni ini, Kementerian Perindustrian mengabarkan kesibukannya mencarikan konsumen. Caranya: mempercepat pembangunan 'proyek molor dan mangkrak' kawasan industri Teluk Bintuni. Tujuannya tak lain agar PT Pupuk Indonesia dan perusahaan petrokimia Jerman Ferrostaal GmbH, yang sudah siap berinvestasi di sana, bisa segera merealisasikan rencananya, beroperasi, dan akhirnya jadi konsumen Kilang LNG Tangguh.

Niatan membangun Train III alias instalasi pengolah LNG ke-3 di Kilang Tangguh sudah lama terdengar. Pada Desember 2012, Kementerian ESDM bilang sudah meneken rencana pengembangannya. Menurut rencana itu, kilang yang bisa menampung dan memproduksi gas alam cair (LNG) sebanyak 3,8 juta metrik ton itu bakal dibangun pada awal 2013 dan rampung pada 2018. Dua train sebelumnya, Train I dan Train II, yang sudah beroperasi sejak 2009, juga punya kapasitas yang sama.

Hingga April 2013, rencana itu ternyata masih rencana. Belum bicara pelaksanaan proyek, SKK Migas masih bicara soal 3 bank pelat merah pun yang siap mengucurkan kredit sindikasi untuk pembangunannya: PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk.

Kabinet berganti, pengulangan kabar pun terjadi. Maret 2015, Kementerian ESDM kembali mengumumkan Train III Kilang LNG Tangguh akan dibangun pada Semester II tahun 2016. Soal pembiayaannyya masih sama seperti yang direncanakan sebelumnya, yakni memakai pola Trustee Borrowing Scheme (TBS), alias akan didanai oleh pendapatan yang dihasilkan dari produksi kilang sebelumnya. Sistem TBS ini sudah disosialisasikan sejak Januari 2012.

Sebulan berlalu, persoalan lain mulai diungkap. Selain soal pembiayaan ala TBS tadi yang masih terus didiskusikan, BP Berau Ltd, via BP Indonesia, pada pertengahan April 2015 bilang kalau pihaknya juga masih mencari pembeli LNG hasil Train III. Saat ini, yang baru bersedia membeli baru dua perusahaan: PT PLN (persero) sebanyak 1,5 juta metrik ton dan Kansai Electric (Jepang) sebanyak 1 juta metrik ton. Dengan kata lain masih ada 1,3 juta metrik ton yang belum jelas siapa pembelinya. Adapaun soal target penyelesaian dan pengoperasian Train III, BP Indonesia bilang akan terlaksana sesuai jadwal, yakni pada tahun 2020.

Masalah kekurangan pembeli itu boleh jadi bakal terpecahkan. Soalnya, bulan Juni ini pemerintah mengumumkan percepatan pembangunan Kawasan Industri Petrokimia di Teluk Bintuni. Yang dimaksud 'percepatan' ini tak lain adalah dimulainya kajian harga LNG antara PT Pupuk Indonesia, sebagai pengelola kawasan industri, dengan BP Berau Limited. Keduanya akan merundingkan harga yang pas bagi dua investor utama di sana, yakni PT Pupuk Indonesia sendiri, dan Ferrostaal GmbH, perusahaan petrokimia asal Jerman. Kajian ini baru akan rampung pada Juni 2016.

Kawasan Industri Petrokimia di Teluk Bintuni sendiri, yang luasnya mencapai 2.344 hektar, sudah direncanakan pengembangannya sejak 2010. Yang ditunjuk sebagai pengelola adalah PT Pupuk Indonesia. Di masa awal pencanangannya, selain PT Pupuk Indonesia dan Ferrostaal GmbH, calon investor lainnya adalah LG Internasional (Korea) dan Sojitz Corporation (Jepang). Namun karena persoalan pasokan gas yang tak kunjung jelas, sekarang hanya dua nama investor tadi saja yang masih disebut-sebut.

Upaya 'ngangetin' proyek mangkrak ini sudah dimulai Januari lalu, ketika pemerintah mengumumkan pengembangan belasan kawasan industri di seantero Indonesia. Kalau dibaca detailnya, tidak semuanya merupakan kawasan industri baru, melainkan mencakup juga kawasan industri yang mangkrak. Termasuk kawasan industri Teluk Bintuni. Dan 'percepatan' sekarang ini, seperti dibilang Direktur Jenderal Industri Kima, Tekstil dan Aneka Kementerian Perindustrian Harjanto, tak lain agar proyek mangkrak itu tidak tenggelam.

Peta & Citra Satelit

BP Indonesia

BP Indonesia - BP Berau Limited

Kantor Pusat:
Perkantoran Hijau Arkadia, Tower D, Lantai 3
Jl. TB. Simatupang Kav 88
Jakarta Selatan - 12520
DKI Jakarta

Tel: 021-78838000
Fax: 021-78549081

Website: www.bp.com/en_id/indonesia.html


Pusat Operasi Lapangan:
Desa Tanah Merah
Distrik Sumuri
Kabupaten Teluk Bintuni
Papua Barat

Lapangan Gas Tangguh

Kilang LNG Tangguh adalah muara bagi gas alam yang dihasilkan dari Lapangan Gas Tangguh yang ada di Kabupaten Bintuni, Papua Barat. Kilang ini berada di tepian selatan Teluk Bintuni, di desa Tanah Merah, Distrik Sumuri, Kabupaten Teluk Bintuni.

Lapangan Gas Tangguh sendiri merupakan kumpulan dari 6 lapangan gas yang tersebar di sekeliling Teluk Bintuni: Vorwata, Wiriagar Deep, Ofaweri, Roabiba, Ubadari, dan Wos. Dari keenamnya, yang paling besar cadangan gasnya adalah Vorwata dan Wiriagar Deep.

Nama 'Tangguh' merupakan nama pemberian Presiden Soeharto, yang berharap nama itu mencerminkan ketangguhan sang lapangan gas dalam memproduksi gas hingga 30 tahun sejak mulai beroperasi.

Keenam lapangan gas itu dikembangkan lewat 3 wilayah kerja PSC (production sharing contract, KKS): Wiriagar, Berau and Muturi. BP Berau Limited, yang jadi pengelola utama, sebenarnya hanya secara langsung memegang KKS Berau. Tapi karena dua KKS lainnya dimiliki anak perusahaannya, BP Muturi Holdings BV dan BP Wiriagar Ltd, maka secara keseluruhan BP Berau Ltd yang jadi pengelolanya.

Cadangan gas di seluruh lapangan gas Tangguh (Tangguh Project) ditemukan oleh Arco (Atlantic Richfield Co) pada pertengahan tahun 1990-an. Pada tahun 1997, bersama Pertamina, Arco memulai rencana eksploitasi. Tapi pada tahun 2000, British Petroleum (BP) mengakusisi Arco. Walhasil sejak itu BP jadi pihak yang meneruskan kegiatan ekspolitasi gas alam yang berada di dasar laut Teluk Bintuni itu.

Gas dari bawah laut dipompa atau disedot lewat dua anjungan lepas pantai yang berada sekitar 1 kilometer dari bibir pantai Desa Tanah Merah. Dari anjungan tanpa awak ini gas disalurkan ke dua instalasi pengolahan (Train I dan II) yang berada di Kilang LNG Tangguh, yang ada di daratan, di Desa Tanah Merah. Kilang LNG ini hanya membutuhkan area 800 hektar, namun dulu BP membebaskan lahan hingga 3.200 hektar. Pembebasan lahan ini melibatkan relokasi sekitar 127 KK (kepala keluarga) di Desa Tanah Merah dan desa tetangganya, Desa Onar.

Train I dan II punya kapasitas produksi yang sama: 3,8 juta metrik ton LNG. Train I dioperasikan pada Juni 2009, Train II pada kuartal ke-3 tahun 2009. Pasca pengoperasian Train I, ekspor LNG sudah langsung dimulai pada Juli 2009. Hingga 2011, tak kurang dari 189 kargo tanker mengirimkan gas ke China, Korea Selatan, Jepang, dan Amerika Utara.

Selain ke luar negeri, gas dari Kilang LNG Tangguh juga dijual ke pasar dalam negeri. Antara lain untuk mensuplai pabrik pupuk PT Pupuk Iskandar Muda pada 2013. Pada 2014, Kilang LNG Tangguh juga menjual gasnya ke PT Perusahaan Gas Negara, yang dikirimkan ke FSRU Lampung (floating storage and gasification unit). Namun pada Agustus 2014, PT PGN sempat membatalkan pesanan gasnya karena ternyata baru PT PLN saja yang bersedia membeli darinya. Tapi pada Oktober 2014, pembelian itu dilanjutkan lagi karena ada permintaan baru. Dan akhirnya, Januari 2015, gas dari FSRU itu bisa dijual dan disalurkan ke 14 industri di Lampung, termasuk di antaranya PT Coca Cola Amatil Indonesia dan PT Garuda Food Putra Prima.

Konsumen lokal terbaru Kilang LNG Arun adalah PT Perta Arun Gas, anak perusahaan PT Pertamina Gas. Jumat kemarin, 26 Juni 2015, perusahaan ini baru saja menerima satu kargo lagi gas dari Tangguh di Terminal Penampungan dan Regasifikasi Arun yang berada di Kota Lhoksemauwe, Aceh. Terminal ini baru diresmikan pengoperasiannya oleh Presiden Jokowi pada Maret 2015 lalu dan akan mendistribusikan LNG ke wilayah Sumatera Utara dan Aceh.