Satu Indonesia, Berjuta-juta Places-nya
//EMPTY DIV!!
//EMPTY DIV!!
//EMPTY DIV!!

Pemerintah Kabupaten Pesawaran

Minggu, 27 April 2014 20:12:08
photo: BEM Stekomindo

Jokowi, sebagai gubernur DKI Jakarta, Rabu lalu melakukan lawatan bisnis ke dua kabupaten di Lampung. Di Kabupaten Lampung Selatan, ia ingin beli sapi. Ia disambut Bupati Rycko Menoza SZP dan bapaknya: Gubernur Lampung Sjachroedin ZP. Di Kabupaten Pesawaran, ia ingin beli ayam. Siapa yang menyambut capres PDI-Perjuangan ini? Bupati Aries Sandi Darma Putra tak menyambutnya. Lho, kok? Apa karena sang bupati sukses menjadikan Pesawaran sebagai satu-satunya kabupaten di Lampung yang tak dimenangkan PDI-Perjuangan? Mengapa pula Jokowi memproklamirkan 'tata niaga ayam' di Pesawaran?

KPUD Kabupaten Pesawaran memang sudah menyelesaikan penghitungan suara hasil Pemilu 9 April pada akhir pekan lalu (20-21 April 2014). Hasilnya disebut sebagai sangat menakjubkan. Partai Hanura keluar sebagai pemenang dengan perolehan 63.057 suara untuk pemilu anggota DPR. PDI-Perjuangan yang keluar sebagai pemenang pemilu di Provinsi Lampung menjadi runner-up di Pesawaran, dengan perolehan suara tak sampai separoh dari peroleh Hanura: 30.497 suara.

Bupati Pesawaran Aries Sandi Darma Putra --putra Bupati Tulang Bawang Abdurrachman Sarbini, kabupaten lain di Lampung-- tentu berperan besar dalam sukses itu. Sebagai bupati, ia menang pilkada 2010 berkat dukungan PAN. Tapi, apa mau dikata, ia pisah jalan. Untuk pemilu 9 April lalu, Aries Sandi mengerahkan para loyalisnya untuk memenangkan Partai Hanura. Terutama sekali untuk mengantar Frans Agung Mula Putra meraih kursi DPR-RI. Nama yang terakhir ini tak lain adalah kakak kandung sang bupati. Dan yang lebih penting lagi, Aries Sandi ingin jadi bupati periode kedua pada pilkada tahun depan dengan dukungan Hanura.

Mungkin karena perbedaan bendera itu bupati Pesawaran agak nyuekin kedatangan Jokowi. Mungkin juga karena sebab lain. Termasuk tentunya, ketidakakuran Aries Sandi dengan ketua DPD PDI-Perjuanga Lampung, yang tak lain adalah Gubernur Lampung Sjaechroedin ZP, yang bernama panjang Sjachroedin Zainal Pagaralam. Pada Febuari 2012, bupati Pesawaran ini pernah dilaporkan ke polisi oleh pendukung PDI-Perjuangan karena melakukan penghinaan terhadap sang gubernur. Massa PDI-Perjuangan pun sempat mengepung kantor bupati dan menuntut pengunduran diri Aries Sandi. Mungkin karena ini pula Pak Gubernur jadi malas menemani lawatan bisnis Jokowi ke kandang ayam di Pesawaran, tapi senang menyupiri Jokowi saat menengok RPH dan kandang sapi di Lampung Selatan.

Lalu, bagaimana soal 'tata niaga ayam' Jokowi? Jokowi datang ke Pesawaran pada 23 April 204 itu memang untuk belanja ayam. Ia meninjau peternakan ayam di Kecamatan Tegineneng bersama jajajaran direksi PD Pasar Jaya, dan ditemani Plt Sekda Lampung Arinal Djunaidi. Tujuannya: ingin mengamankan pasokan daging ayam ke Jakarta. Atau lebih lengkapnya, mengamankan pasokan daging ayam, daging sapi, sayur mayur, dan komoditas dapur lainnya. Untuk itu, Jokowi dan gubernur Lampung sudah meneken MoU agribisnis 14 komoditas pertanian dan peternakan pertengahan Maret lalu. Kedatangan Jokowi kali ini merupakan tindak lanjut MoU itu.

Kedatangan Jokowi ke Lampung bukanlah yang pertama. Sebulan sebelumnya, 21 Maret 2014 Jokowi juga pernah datang bersama Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Ingin silaturahmi dengan trasmigran Jawa Tengah yang bertebaran di Lampung? Mungkin. Yang jelas, agenda resminya adalah, karena sedang musim kampanye Legislatif 2014, datang sebagai jurkam PDIP di Lampung. Saat hendak kampanye di Kabupaten Lampung Tengah pun, Jokowi sempat singgah di Kecamatan Tegineneng karena kecamatan ini berada di Jalan Lintas Sumatera menuju Lampung Tengah, kabupaten yang berada di utara Pesawaran dan ibukota Bandar Lampung. Saat singgah, Jokowi sempat membagikan kaos dan pin Jokowi for President.

Saat menengok peternakan ayam di Kecamatan Tegineneng ---peternakan rakyat, katanya--, Jokowi cerita soal kebutuhan ayam potong di Jakarta yang mencapai 650 ribu ekor perhari, atau 20 juta ekor perbulan. Sedangkan Lampung, kata Ketua Asosiasi Peternakan Ayam Ras Lampung Agus Hidayat, bisa menghasilkan 13,5 juta ekor ayam potong per bulan. Dari jumlah itu, 30 persen di antaranya didistribusikan ke Jakarta. Lantas, kalau ayam Lampung selama ini memang sudah masuk Jakarta, kenapa Jokowi masih repot ngurusin ayam? Ternyata ada alasannya.

Jokowi ingin ayam yang masuk ke Jakarta bukan ayam hidup. Kalau yang datang ayam hidup dan kemudian dipotong di Jakarta, ayam itu akan menghasilkan banyak sampah. Solusinya: ayam yang masuk Jakarta harus ayam yang sudah dipotong dan siap dimasak. ''Tinggal digoreng dan dimakan,'' kata Jokowi. Karena itu, Jokowi lantas mengumumkan niatnya membangun peternakan ayam dan RPH ayam (rumah potong hewan) yang akan memotong dan mengemas ayam Lampung. Bisnis RPH ini akan dijalankan secara bersama oleh PD Pasar Jaya (BUMD Pemprov DKI Jakarta) dan PT Wahana Raharja (BUMD Premprov Lampung). Soal nilai investasi, Jokowi cuma bilang ''Jakarta uangnya banyak.''

Jadi, PD Pasar Jaya --yang oleh Jokowi tengah diluruskan agar berkonsentrasi mengurus bisnis distribusi pangan dan bukan jadi pebisnis properti (pengelola pasar)-- akan memonopoli bisnis ayam di Jakarta? Kata Jokowi sih tidak. Pemprov DKI hanya ingin ikut mengendalikan distribusi pangan di ibu kota agar tak dikuasi segelintir orang saja. ''Kalau kita investasi sendiri, kelebihannya kita pegang distribusi logistiknya. Jadi tidak dikuasai oleh satu dua orang saja. Ini masalah ketahanan pangan, dan pemerintah harus ikut,'' kata Jokowi. Ia pun lantas menegaskan, ''Tapi jangan disangka kita ini mau mengambil alih perdagangan ayam. Ayam-ayam itu nantinya akan tetap disuplai ke perhimpunan pedagang ayam di Jakarta.''

So, berapa banyak ayam --dan sapi, atau total 14 komoditas agribisnis-- dari negeri 'Miniatur Perunggasan Indonesia' itu yang kelak bakal masuk ke Jakarta? Jokowi tak cerita. Media yang menemani lawatan Jokowi pun mungkin sudah lupa. Untunglah, beberapa hari kemudian, Saibumi.com, portal berita lokal Lampung, mau mem-follow-up dan memperoleh jawabannya dari Kepala Disnakeswan Lampung Desi Romas. Katanya, dari 14 komoditas agribisnis yang ada di 'MoU ketahanan pangan' itu, yang akan difokuskan terlebih dahulu adalah komoditas daging. Untuk memenuhi kebutuhan DKI Jakarta, Lampung hanya akan memasok ''200 ribu ekor ayam dan 6 ribu ekor sapi.'' Khusus ayam, kebetulan Lampung sudah surplus 4 juta ekor ayam. Soal pelaksanannya, Desi bilang, ''Ini murni bisnis antara kedua BUMD. Daging dari peternak dibeli PT Wahana Raharja dan akan dijual kembali oleh PD Pasar Jaya.''

Kesimpulannya, karena yang terjadi melulu bisnis antara dua perusahaan daerah, yang kebetulan sama-sama BUMD milik pemerintah provinsi, maka mungkin bisa dimaklumi kalau Bupati Pesawaran Aries Sandi Darma Putra --bupati termuda di Provinsi Lampung-- merasa tak perlu repot-repot menemani lawatan bisnis Jokowi.

Peta & Citra Satelit

Kantor Bupati Pesawaran

Pemerintah Kabupaten Pesawaran
Komplek Perkantoran Pemkab Pesawaran
Desa Waylayap
Kecamatan Gedong Tataan - 35371
Kabupaten Pesawaran
Provinsi Lampung

Website: www.pesawarankab.go.id


Kantor Lama
Jalan Cokro Suwarno No. 804
Sukaraja V
Kecamatan Gedong Tataan - 35371
Kabupaten Pesawaran

Tel: 0721-94630
Fax: 0721-94003

Kecamatan di Pesawaran

Kecamatan di Kabupaten Pesawaran:
1. Gedong Tataan
2. Kedondong
3. Negeri Katon
4. Padang Cermin
5. Punduh Pidada
6. Tegineneng
7. Way Lima
8. Way Khilau
9. Marga Punduh

Kantor Baru Bupati Pesawaran

Kompleks Kantor Bupati Pesawaran, seperti yang terlihat di citra satelit Google di atas, memang masih berantakan. Foto gedung yang sudah jadi pun masih sulit didapat. Maklum, kompleks perkantoran ini di Dusun Binong, Desa Waylayap, Kecamatan Gedongtataan, ini memang masih baru, dan belum sepenuhnya rampung. Selain kantor bupati, baru 7 kantor SKPD yang sudah selesai dan ditempati mulai Januari 2013: Bappeda, Badan Pengelola dan Aset, Dinas Pendapatan Daerah, Badan Kepegawaian Daerah, Dinas Kesehatan, Dinas PU, dan Kantor Polisi Pamong Praja. Tahun lalu, mulai dibangun kantor Sekretariat Daerah dan 2 kantor SKPD lainnya: Dinas Pertambangan dan Dinas Pendidikan.

Kabupaten Pesawaran pun masih terbilang baru. Kabupaten ini terbentuk lewat UU No. 33 tahun 2007 (10 Agustus 2007) sebagai pemekaran dari Kabupaten Lampung Selatan. Kabupaten induknya itu berada di sebelah Timur dan Tenggara ibukota provinsi Bandar Lampung, sedangkan Pesawaran berada di sebelah Baratnya. Yang menjadi ibukota Pesawaran adalah Kecamatan Gedong Tataan. Ketika baru terbentuk, dan hingga awal tahun lalu, bupatinya berkantor di gedung bekas Kantor Camat Gedong Tataan, yang berada di 'kota kecamatan' Gedong Tataan, di sebelah Barat kantor bupati yang baru. Bupati yang sekarang, Aries Sandi Darma Putra, merupakan bupati pertama hasil pilkada, yang dilantik pada September 2010.

Lokasi sekitar kantor bupati kabarnya akan jadi 'pusat kota' Gedong Tatatan yang baru. Berbagai proyek pembangunan pun banyak dilakukan di kawasan ini. Termasuk yang sudah selesai adalah 'Museum dan Monumen Nasional Trasmigrasi', yang berada di sebelah utara kantor bupati, di seberang jalan raya (silakan geser sedikit citra satelit di atas ke arah bawah). Museum serius yang punya lahan seluas 20 hektar ini berada di Desa Bagelen, sedangkan kantor bupati masuk wilayah desa Waylayap. Museum yang rampung pada 2010 ini dibangun di Desa Bagelen karena transmigran pertama yang datang ke Lampung di zaman Hindia-Belanda dulu, 1905, ditempatkan di sana.

Karena lebih representatif, banyak kegiatan akbar dan seremonial pemerintah digelar di Museum Transmigrasi. Menjelang kampenye pemilu 2014 lalu, misalnya, KPU menggelar Deklarasi Damai di sana. Tahun lalu, ketika Pemkab Pesawaran menerima dana pembangunan senilai Rp 64 miliar dari Pemprov Lampung pun, acara serah terimanya digelar di Museum Transmigrasi. Tahun ini, ketika Februari lalu menerima dana serupa sebesar Rp 47,3 miliar dari Pemprov Lampung, serah terimanya sudah dilakukan di kantor bupati yang baru.

Proses pembangunan komplek kantor bupati sudah dilakukan sejak 2008, dengan melakukan pembebasan lahan seluas 40,5 hektar. Pembangun fisik dimulai pada 2009 dengan anggaran tahun jamak pertama sebesar Rp 10 miliar. Tahun berikutnya, 2010, disalurkan lagi Rp 7 miliar. Dan akhirnya, proyek yang disebut pembanguan komplek antor pemkab tahap pertama itu --berikut pembangunan gerbang masuk-- dinyatakan selesai pada akhir 2012.

Berada di ujung tenggara Pulau Sumatera, wilayah Kabupaten Pesawaran tak hanya berupa daratan yang ada di Pulau Sumatera, melainkan mengikutsertakan pula 33 pulau yang berada di perairan Teluk Lampung. Tiga di antaranya tergolong pulau besar: Pulau Legundi, Pulau Pahawang, dan Pulau Kelagian.