Indonesia meets Google Places and Facebook Places
Pemerintah Kabupaten Kampar
Jumat, 29 Mei 2015 06:45:13
photo: bappeda kampar
Desa Kubang Jaya di Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar, Riau, terlihat amat sibuk sepanjang Mei 2015 ini. Rombongan pejabat negeri ini --mulai dari pejabat tingkat kecamatan, kabupaten, kementerian, militer, wakil rakyat, hingga ke pejabat lembaga pemasyarakatan-- silih berganti berdatangan. Mereka ingin mengetahui langsung 'kiat dan strategi' Bupati Kampar Jefry Noer dalam memberantas kemiskinan lewat penciptaan rumah tangga mandiri yang berpenghasilan Rp 10 juta per bulan. Strategi ini merupakan salah satu langkah Pemkab Kambar untuk mencapai target '3 Zero': zero kemiskinan, zero pengangguran, dan zero rumah kumuh.

Kiat dan strategi itu oleh Bupati Jefry Noer dikemas ke dalam program yang disebut 'Rumah Tangga Mandiri Pangan dan Energi' (RTMPE). Wujud kongkretnya adalah rumah tangga yang membangun usaha rumahan, atau dari rumah, dengan berbasis lahan seluas 1.000 meter per segi. Di lahan itu, selain rumah ukuran 6x6 meter, dikembangkan usaha yang bisa menghidupi keluarga: memelihara 4 sampai 6 ekor sapi di kandang ukuran 4x6 meter; memelihara 60 ekor ayam petelur di kandang ukuran 5x6 meter; kolam ikan lele ukuran 4x6 meter untuk ditebari 2.000 ekor bibit lele; area pembuatan biogas seluas 4x6 meter untuk mengolah kotoran padat sapi dan ayam;; serta lahan 1,5 x 4 meter untuk menampung kencing sapi dan menjadikannya pupuk cair bio-urine. Area selebihnya, sekitar 150 meter persegi, dijadikan lahan untuk bercocok tanam apa saja, terutama cabai dan bawang, yang kebetulan juga jadi langkah lain Pemkab Kampar dalam mencapai 3 Zero.

Hitungan bisnisnya: hasil penjualan bio-urine sapi, pupuk organik cair, dan pupuk organik padat per bulan sekitar Rp 24 juta. Dari ikan lele bisa didapat pemasukan Rp 2,7 juta per bulan. Lalu dari ayam petelur: dengan telor minimal 50 butir/hari x 30 hari x Rp 2.000, bakal didapat penghasilan sekitar Rp 300 ribu. Dengan kata lain, kalkulasi tadi bisa menghasilkan pendapatan lebih dari Rp 25 juta per bulan. Dengan kata lain juga, seperti sering dibilang sendiri oleh Bupati Jefry Noer, angka Rp 10 juta yang kerap ia sebut sebenarnya adalah angka penghasilan minimal. Potensi lain, programi ini bisa menjadikan Kampar sebagai 'lumbung sapi'. Sapi peliharaan bisa dijual untuk memenuhi kebutuhan sapi kurban, karena sampai sekarang Kampar masih belum bisa memenuhi sendiri kebutuhan sapi kurban yang per tahunnya mencapai 27 ribu ekor.

Lalu, apa hubungannya semua itu dengan Desa Kubang Jaya? Rupanya, di desa itulah sang bupati membangun Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S) Karya Nyata, tempat melatih para petani Kampar yang bakal menerapkan program RTMPE. Di tempat itu pula Pemkab Kampar membuat dua proyek percontohan RTMPE di atas lahan seluas 1.000 meter dan 1.500 meter, yang dikelola langsung para peserta pelatihan. Pada 21 Mei 2015, Bupati Jefry baru saja melantik peserta pelatihan gelombang VII dan membuka gelombang VIII.

Kalau mau sedikit diilmiahkan, lewat RTMPE, sang bupati ingin sekaligus juga merubah pola pikir petani dan masyarakat. ''Petani Kampar ke depan harus dapat mengubah pola pikir lama, yaitu untuk bisa memperoleh hasil jutaan itu bukan dengan cara memiliki lahan berhektar-hektar, tetapi lebih kepada bagaimana mengelola lahan yang ada hingga mampu menghasilkan uang jutaan,'' kata Jefry saat melantik peserta gelombang VII. Juga, pola pikir lama bahwa beternak sapi itu demi mengharapkan hasil utama berupa daging dan anakan sapi. Sekarang, kata Jefry, harus dibalik menjadi: sumber utama penghasilan dari beternak sapi adalah dari kotoran sapi, baru kemudian hasil dari daging dan anakan sapi. Kok begitu? Ya karena seperti terbaca dari hitungan bisnis tadi, 'inti' dari bisnis dan program RTMPE ini, atau komponen usaha yang menghasilkan jutaan rupiah, adalah 'bisnis kencing sapi'.

Lantas, dari mana Bupati Kampar mendapatkan ilmu bisnis kencing sapi ini? Siapa yang jadi 'dewan pakar' program ini? Ketika hal itu ditanyakan salah seorang pejabat Bappenas yang berkunjung, Jefry Noer cuma tersenyum dan hanya bilang bahwa ia memperoleh itu dari orang yang memang 'expert'. Jefrey tak menyebut nama. Tapi siapapun tahu, kalau mau buka-buka berita lama, Bupati Kampar ini 'berguru' kepada Sri Wahyuni, mantan dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) yang sekarang jadi 'ratu biogas' dan pengusaha 'reaktor biogas' alias digester biogas, lewat PT Swen Inovasi Transfer. Sri Wahyuni pernah menerimma ''Penghargaan Energi Tahun 2012'' dari Kementerian ESDM dan memang getol berbicara ke banyak pemda untuk mempromosikan biogas sebagai energi alternatif.

Sri Wahyuni, dari 'sekedar' produsen digester biogas dari fiberglass yang sejak 2007 sukses menjual lebih dari 3.400 unit digester biogas ke 243 kabupaten dan kota di Indonesia, sudah mengembangkkan kebun percontohan yang jadi cikal bakal atau ide dasar RTMPE Kampar. Ia menyebutnya sebagai kebun ''Pertanian Terintegrasi Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan Menuju Mandiri Pangan dan Energi''. Januari 2015 lalu, Bupati Jefry Noer dan rombongan pejabat Kampar berguru dan mengunjungi lokasi proyek itu di Desa Cikoneng, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor. Di sana, Pak Bupati terpesona pada proyek yang memanfaatkan lahan seluas 800 meter, yang kemudian dikelola ala strategi RTMPE, dan bisa mennciptakan penghasilan Rp 3 juta bagi petani pengelolanya. Lho, kok Rp 3 juta, bukan Rp 10 juga seperti yang dibahasakan oleh Jefry? Entahlah, mungkin karena Bupati Jefry mengkombinasikan metode Sri Wahyuni dengan strategi '3 Zero' Kampar.

So, sudah berapa banyak rumah tangga jutawan yang tercipta di Kabupaten Kampar? Ya belum ada. Seperti dibilang tadi, pekan lalu Pak Bupati baru mewisuda peserta pelatihan gelombang VII dan memulai gelombang VIII. Sampai sekarang ya baru pelatihan saja, plus mengembangkan 2 lahan percontohan di Desa Kubang Jaya. Meski begitu, dalam waktu dekat program RTMPE ini segera terlaksana. Kecamatan Koto Kampar Hulu sudah menyiapkan 3 desa untuk jadi percontohan riil. Begitu pula dengan Kecamatan Tapung yang sudah menyiapkan 2 desa, dan sejak Februari lalu menjalani verifikasi untuk menerima 'bantuan terpadu' dari semua dinas yang terkait dengan RTMPE. Jadi, baru level desa, belum level rumah tangga? Ya, begitulah. Semoga sukses dan tidak mejadi Zero ke-4: zero result.
Pemerintah Kabupaten Kampar
Kompleks Perkantoran Pemkab Kampar
Jl. Lingkar Bangkinang
Kecamatan Bangkinang
Kabupaten Kampar
Provinsi Riau

Website: www.kamparkab.go.id

Bappeda Kabupaten Kampar
Jl.Lingkar STA Bangkinang
Kabupaten Kampar - 28412

Tel: 0762-20630

Website: http://bappeda.kamparkab.go.id


Link:
PT Swen Inovasi Transfer - www.biogasswenit.com



Notes: Google Maps belum punya citra satelit terbaru yang mengcover area kantor bupati Kampar. Tapi Google Earth sudah punya, meski masih hitam-putih. Silakan simak foto hitam-putih di atas. Atau foto di bawah yang mengcover area lebih luas, yang mencakup tiga maskot kompleks Pemkab Kampar: kantor bupati, gedung DPRD Kampas punya gedung bundar, dan GOR Kampar yang beratap futuristik.
Kecamatan di Kabupaten Kampar:
1. Kampar Kiri
2. Kampar Kiri Hulu
3. Kampar Kiri Hilir
4. Kampar Kiri Tengah
5. Gunung Sahilan
6. XIII Koto Kampar
7. Koto Kampar Hulu
8. Kuok
9. Salo
10. Tapung
11. Tapung Hulu
12. Tapung Hilir
13. Bangkinang
14. Bangkinang Seberang
15. Kampar
16. Kampar Timur
17. Rumbio Jaya
18. Kampar Utara
19. Tambang
20. Siak Hulu
21. Perhentian Raja