Satu Indonesia, Berjuta-juta Places-nya
//EMPTY DIV!!
//EMPTY DIV!!
//EMPTY DIV!!

Pemerintah Kabupaten Dompu

Selasa, 26 Mei 2015 16:19:18
photo: pemkab dompu

April lalu Presiden Jokowi ke Kabupaten Dompu. Usai menghadiri puncak kegiatan ''Tambora Menyapa Dunia'' dan meresmikan Taman Nasional Gunung Tambora, Jokowi melakukan panen raya jagung di Desa Kampasi Meci, Kecamatan Manggalewa. Panen raya itu memanen jagung di lahan 76 hektar dari total 870 hektar lahan jagung di Manggalewa. Pekan lalu, giliran presiden yang lain lagi yang panen raya jagung di Dompu: Presiden Direktur PT Syngenta Indonesia Lim Jung Lee. Yang jadi obyek panen adalah ladang jagung di Desa Nusa Jaya, Kecamatan Manggalewa. Kedua presiden itu bersaing?

Sudah barang tentu keduanya tidak bersaing. Presiden yang terakhir sudah lebih dulu sowan ke Jokowi, 14 April 2015, atau 3 tiga hari setelah Jokowi panenan di Dompu. Presiden direktur Syngenta tidak bertamu sendirian, tapi bersama rombongan yang dikenal dengan nama PISAgro (Partnership for Indonesia’s Sustainable Agriculture), alias Kemitraan Pertanian Berkelanjutan Indonesia. Lembaga ini merupakan perkumpulan perusahaan agribisnis, terutama yang multinasional, yang berkiprah di Indonesia. PT Syngenta Indonesia, misalnya, merupakan pemasok NK 22 dan NK 99, dua dari sekian macam bibit jagung yang ditanam di Dompu. Bibit jagung lainnya (Bisi-222, Bisi-18, PAC 339, Pioneer, dan DK 77) diproduksi perusahaan lain.

PISAgro pada dasarnya adalah lembaga kemitraan publik-swasta yang bertujuan mendukung pemerintah dalam mengatasi isu ketahanan pangan nasional. Caranya adalah dengan membantu meningkatkan produksi komoditas pertanian secara berkelanjutan dan meningkatkan penghidupan para petani kecil. Berdiri sejak April 2012, PISAgro beranggotakan perusahaan agribisnis nasional dan multinasional, lembaga pemerintah, LSM, serta organisasi internasional. PISAgro punya banyak working group sesuai beragamnya agribisnis yanga ada di Indonesia. Untuk Corn Working Group atau Pokja Jagung, yang jadi ketua adalah Syngenta. Anggotanya: Monsanto, Cargill, Mercy Corps (LSM), dan Ditjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian.

Kedatangan Presdir atau CEO Syngenta Indonesia ke Dompu untuk panen raya jagung pada Rabu lalu, 20 Mei 2015, bukan cuma untuk melihat bonggol jagung yang mekar dari bibit buatan perusahaannya. Melainkan melihat hasil proyek percontohan 'Kemitraan Pembiayaan Mikro Petani Jagung' yang dimulai PISAgro sejak November 2014. Wujudnya adalah: Sygentta memberikan pelatihan dan pendampingan penerapan cara bertani dengan metode ''Awali dengan Benar''; Mercy Corps membimbing petani agar melek keuangan dan e-banking; dan bantuan modal untuk membeli bibit dan saprotan lainnya senilai Rp 8 juta per hektar, yang disalurkan lewat Bank Andara dan BPR Pesisir Akbar. Tak hanya di Dompu, proyek ini juga dijalankan di kabupaten tetangganya, Bima. Totalnya ada 198 petani yang tergabung ke dalam 10 kelompok tani yang ikut proyek percontohan ini.

Usai panen, Lim Jung Lee --yang punya cara unik menghitung kebutuhan jagung nasional: untuk setiap kilogram daging yang diproduksi, kita butuh 5 kilogram jagung; alias jagungnya jadi pakan ternak--- bisa tersenyum. Pada panen raya di Desa Nusa Jaya yang juga dihadiri Wakil Gubernur NTB H Muhamad Amin itu, para petani bisa menghasilkan rata-rata 7,2 ton jagung per hektar. Pak Wagub pun senang, karena setelah berjalan 5 tahun, program pertanian jagung di Kabupaten Dompu terus mengalami peningkatan signifikan.

Bagaimana dengan pemasaran atau penjualan jagungnya? Meski tak secara spesifik dijelaskan, program Kemitraan Pembiayaan Mikro Petani Jagung itu katanya sudah menyertakan aspek pemasaran, termasuk dengan melibatkan para pembeli jagung lokal. Dan kesimpulan akhirnya: pendapatan petani jagung naik 20 persen.

Menanam jagung dan memasarkan jagung memang beda urusannya. Dan pemasaran kerap lebih membuat pusing petani. Bupati Minhasa Selatan Christiany Paruntu, SE, misalnya, pernah 'menembak' Syngenta dan Cargill agar ikut mencarikan solusi pemasaran, saat PISAgro menggelar program tumpangsari kelapa-jagung di Amurang. Kalau sekedar mengikuti program PISAgro sih, Pak Bupati amat yakin, produksi petani bakal naik. Masalahnya, katanya, adalah bagaimana hasil petani bisa dijual dengan harga yang sesuai.

Di Dompu sendiri, seminggu sebelum Jokowi datang, harga jagung anjlok. Biasanya harga jagung sekitar Rp 2.200, sekonyong-konyong merosot jadi Rp 1.200 sampai Rp 1.700, bergantung tingkat kekeringannya. Repotnya lagi, tahun ini Pemkab Dompu tak menyediakan anggaran untuk melakukan pembelian talangan seperti tahun sebelumnya. Dan lebih parah lagi, PT Sarotama Dharma Kalparika, yang semestinya jadi pembeli jagung dengan harga minimal Rp 2.000 (kadar air 18 persen), kali ini juga angkat tangan. Perusahaan ini berkiprah sejak Januari 2013, setelah meneken MOU jaminan harga beli dengan Bupati Dompu H Bambang M Yasin dan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) H Helmy Faisal Zaini di Jakarta.

Entah kebetulan entah tidak, usai Jokowi melakukan panen raya di Desa Kampasi Meci, berlangsung dialog menarik antara Jokowi dan petani jagung. ''Dibeli berapa sama PT?'' tanya Jokowi. Para petani kompak menjawab kalau jagung basah dihargai Rp 1.700 per kg dan jagung kering Rp 2.400 per kg. Setelah bla-bla sebentar dengan para menterinya, Jokowi pun mengumumkan kenaikan harga: ''Ini keputusan di lapangan. Jadi, harga jagung basah diputuskan Rp 2.050 per kg dan jagung kering Rp 2.700.'' Tepuk tangan dan teriak gembira pun menggema. Menteri Pertanian Amran Sulaiman pun lantas mengukuhkan ucapan lisan Jokowi itu sebagai Harga Pembelian Pemerintah (HPP).

Petani gembira, Bupati Dompu Bambang M Yasin pasti lebih gembira lagi. Soalnya sudah selama lima tahun terakhir ini dia berjuang mengajak petani untuk menyulap tanah dompu jadi ladang jagung. Ia memulainya pada periode 2010/2011 dengan lahan seluas 21 ribu hektar, lalu setahun kemudian, 2011/2012, naik jadi 31 ribu hektar. Namun tahun depannya berkurang menjadi hanya sepertiganya karena harga jagung anjlok. Ketika hendak memulai periode ke empat, 2013/2014, barulah ia berhasil membuat Menteri PDT Helmmy Faisal Zaini mau melirik Dompu dan ikut panen raya di Desa Taropo, Kecamatan Kilo. Dan Dompu pun akhirnya mendapat dukungan paling indah: kehadiran PT Sarotama Dharma Kalparika sebagai pencegah kejatuhan harga jagung.

Berapa sih pendapatan bisnis jagung Dompu? Pak Bupati pernah berhitung, pada panen 2013/2014, dengan ladang jagung yang diyakini bisa mencapai 35 ribu hektar, yang tiap hektarnya rata-rata bisa menghasilkan 7 ton jagung, total produksi jagung bisa mencapai 280 ribu ton. Jika dijual dengan harga Rp 2.500 hingga Rp 3.200 per kilogram, penghasilan kotor petani bisa mencapai Rp 1 triliun. Harga maksimum bisa dikejar karena Dompu sudah punya instalasi pengering berkapasitas 1.200 ton per hari, beserta gudang-gudang penyimpananya. Awal Mei lalu, Bambang M Yasin mengeluarkan angka lain: produk jagung Dompu yang menghasilkan 250 ribu ton jagung, menciptakan pendapaan sekitar Rp 700 miliar, atau sama dengan nilai APBD Dompu 2014.

Efek lain: tingkat kemiskinan Dompu ikut menurun. Jika pada 2010 tingkat kemiskinannya 21 persen, pada 2013 sudah turun menjadi 18 persen. Bupati Bambang M Yasin berharap tingkat kemiskinan bisa berkuran terus dan Dompu bisa keluar dari 'klub daerah tertinggal'.

Peta & Citra Satelit

Kantor Bupati Dompu

Pemerintah Kabupaten Dompu
Jl. Beringin No. 1
Dompu - 84200
Kabupaten Dompu
Nusa Tenggara Barat

Tel: 0373-21037

Website: www.dompukab.go.id


Link:
PISAgro - www.pisagro.org
Syngenta - www.syngenta.co.id


Simak juga sosok pabrik Syngenta di Gunung Putri, Bogor, di Indoplaces: PT Syngenta Indonesia

Kecamatan di Dompu

Kabupaten Dompu merupakan kabupaten tua. Kabupaaten ini lahir lewat UU No 69 tahun 1958, bersama banyak kabupaten lain di Provinsi Bali, NTT, dan NTB.

Kecamatan di Kabupaten Dompu:
  1. Hu'u
  2. Pajo
  3. Dompu
  4. Woja
  5. Kilo
  6. Kempo
  7. Manggelewa
  8. Pekat