Satu Indonesia, Berjuta-juta Places-nya
//EMPTY DIV!!
//EMPTY DIV!!
//EMPTY DIV!!

Pemerintah Kabupaten Jeneponto

Kamis, 21 Mei 2015 17:14:06
photo: dikpora jeneponto

4 April 2015, Menteri Pertanian Amran Sulaiman menghadiri Panen Raya Jagung Kuning NK 212 di Desa Mangepong, Kecamatan Turatea, Kabupaten Jeneponto. Disana ia mengumumkan tekad menjadikan Jeneponto sebagai sentra produksi jagung nasional, bukan hanya tingkat Sulawesi Selatan. 1 Mei 2015, Kabupaten Jeneponto berulang tahun ke-152. Ucapan Mentan tadi tentu bagus untuk menghias pidato ulang tahun bupati. Tapi ternyata, Bupati Jeneponto Iksan Iskandar malah bicara sebaliknya. Ia mengeluhkan betapa ironisnya Kementerian Pertanian tidak memasukkan Jeneponto sebagai kawasan pertanian jagung kuning, padahal kabupatennya termasuk penghasil jagung kuning terbesar di Sulawesi Selatan.

Hal tak selaras semacam itu mungkin memang gaya bahasa dan cara berkomunikasi para birokrat negeri ini. Yang pasti, semua orang percaya pada pernyataan Bupati Iksan Iskandar bahwa kabupatennya pada 2014 bisa menghasilkan 245.000 ton jagung kuning dari areal seluas 53.466 Ha. Juga orang bisa sama-sama membaca bahwa Gubernur Sulawesi Selatan H Syahrul Yasin Limpo hadir saat peringatan HUT Jeneponto maupun saat Panen Raya Jagung Kuning. Adapun yang tidak hadir pada Panen Raya adalah sang bupati. Pidatonya soal pertanian jagung di Jeneponto disampaikan oleh Wakil Bupati H Mulyadi Mustamu.

Pak Wakil Bupati ketika itu memaparkan: pembangunan sektor pertanian di Jeneponto cukup memegang peran penting karena berkontribusi sebesar 59,84% dari PDRB Jeneponto. Dan soal jagung, ia menyebut luas areal pertanian jagung setiap tahun mencapai 36 hingga 50 ribu ha. Pada 2013 mencapai 53.466 ha dan tahun 2014 mencapai 49.792 ha. Pada 2015 lahan jangung akan bisa mencapai 50 ribu ha, dengan dua kali panen, dan akan terus digenjot sampai 75 hingga 80 ribu ha, dengan memanfaatkan lahan sawah bero.

Adapun Gubernur Syahurl Yasin Limpo pada panen raya itu menyampaikan bahwa pada 2015 provinsinya menargetkan produksi jagung 1,8 juta ton, dengan luas areal tanam sebesar 350 ribu ha. Sedangkan secara nasional, Dirjen Tanaman Pangan Kementan Hasil Sembiring April lalu bilang, sasaran produksi jagung nasional pada tahun 2015 ini meningkat 6 juta ton (31,58%) menjadi 20,33 juta ton, dibanding tahun lalu sebesar 19,13 juta ton.

Target produksi 2015 itu, kata Mentan Andi Amran Sulaiman saat panen raya di Jeneponto, antara lain akan dicapai lewat perluasan lahan jagung sebesar 1 juta ha. Khusus Jeneponto, Kementerian Pertanian membantu perluasan lahan dengan memberikan bantuan irigasi untuk 10 ribu ha, bantuan optimasi lahan 4 ribu ha, pengembangan jagung 4.500 ha, dan bantuan alsintani sebanyak 101 unit dari 2.200 unit yang diberikan untuk Sulawesi Selatan. Dalam bahasa yang simple, Mentan mengungkapkan adanya bantuan 450 ton bibit jagdung dan bantuan perluasan lahan jagung seluas 10 ribu hektar.

Jeneponto sendiri, selain memasarkan jagungnya di dalam negeri, juga sudah mulai mengekspor jagung. Saat peringatan ulang tahun Jeneponto pun, Gubernur Sulsel mendapat kehormatan melepas dua truk kontainer yang mengangkut jagung dan rumput laut ekspor. Menurut Ketua Kadin Jeneponto Muh Nasrun Bochari, ekspor dua komoditi itu masih langkah awal. Setiap kontainer berisi 20 ton. Rencana awalnya ada tiga komoditi, namun terealisasi hanya dua. Komodi lainnya adalah kopi.

Kalau para pemimpinnya bangga dengan jagung kuning, bagaimana dengan para petani jagung di Jeneponto sendiri? Anggota DPRD Sulsel Ariady Arsal sedang meneliti hal ini. Bukan sebagai penelitian resmi DPRD, melainkan untuk thesis S2 di Universitas Hasanuddin. Judul proposal thesisnya: Keterikatan Modal Sosial, Kolaborasi Rantai Pasok, Keunggulan Kompetitif, dan Pendapatan Petani Jagung, Kasus Sentra Produksi Jagung di Kabupaten Jeneponto.

Hasil penelitian Ariady Arsal mungkin masih lama baru bisa kita baca. Karenanya, tak ada salahnya melirik kajian lain yang sudah dibuat Ir Hj Marhawati MSi di Fakultas Ekonomi Unversitas Negeri Makassar, bertajuk: Analisis Pendapatan Usaha Tani Jagung Kuning (Zea Mays L) di Desa Kalimporo, Kecamatan Bangkala, Kabupaten Jeneponto. Kesimpulan Mahwati: pendapatan rata-rata petani jagung dalam satu kali panen selama 3 bulan adalah sebesar Rp 649.225. Angka itu diperoleh dari penerimaan sebesar Rp 2.565.000 dikurangi biaya yang dikeluarkan petani, Rp 1.915.775. Maknanya, kata Marhawati, usaha tani jagung kuning layak diusahakan, karena dari setiap Rp 1,- biaya yang dikeluarkan akan diperoleh penerimaan Rp 1,33,-.

Peta & Citra Satelit

Kantor Bupati Jeneponto

Pemerintah Kabupaten Jeneponto
Jl. Lanto Daeng Pasewang No. 34
Jeneponto
Sulawesi Selatan

Tel: 0419-21012

Website: www.jenepontokab.go.id

Kecamatan di Jeneponto

Kecamatan di Kabupaten Jeneponto:
  1. Tarowang
  2. Tamalatea
  3. Rumbia
  4. Kelara
  5. Bontoramba
  6. Binamu
  7. Batang
  8. Arungkeke
  9. Bangkala
  10. Bangkala Barat
  11. Turatea