Satu Indonesia, Berjuta-juta Places-nya
//EMPTY DIV!!
//EMPTY DIV!!

Galangan Kapal PT Anggrek Hitam, Batam

Kamis, 25 Juni 2015 13:56:16
photo: pt anggrek hitam

Ahad lalu, 21 Juni 2015, Presiden Jokowi melawat ke Provinsi Kepulauan Riau. Salah satu obyek yang dikunjunginya adalah galangan kapal milik PT Anggrek Hitam, di kawasan Pelabuhan Kabil, Batam. Di sana ia menyaksikan para pekerja yang sedang memotong plat baja untuk pembuatan 2 kapal tanker pesanan PT Pertamina. Anak perusahaan Holotan Pte Ltd, Singapura, ini sekarang di-presiden-komisaris-i Laksamana Madya TNI (Pur) Moekhlas Sidik. Mantan Wakil Kepala Staf TNI-AL ini tak lain adalah 'lawan politik' Jokowi saat pilpres lalu. Dia dikenal sebagai Wakil Ketua Tim Pemenangan Prabowo-Hatta.

Tak diketahui mengapa Jokowi memilih galangan kapal PT Anggrek Hitam atau Anggrek Hitam Shipyard itu sebagai obyek kunjungannya. Padahal, dari 250 galangan kapal yang ada di Indonesia, 105 galangan kapal di antaranya ada di Batam. Juga tak ada berita apakah Jokowi sempat bertemu dengan Laksamana Madya TNI (Pur) Moekhlas Sidik. Yang pasti, di salah satu gedung di komplek galangan kapal itu, Jokowi menggelar dialog dengan para pengusaha galangan kapal, Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Kepulauan Riau (Kepri), dan Kadin Kepri.

Pada dialog itu, Jokowi mengaku tercengang dengan kehebatan galangan kapal yang ada di Batam, termasuk galangan milik Anggrek Hitam. ''Setelah melihat, betul-betul terbuka mata saya. Industri galangan kapal di Indonesia sudah mampu membangun sendiri. Waktu saya lihat industri ini di Korea, saya tercengang. Tapi begitu ke sini, saya lebih tercengang lagi,'' bilang Jokowi. Karenanya, Jokowi akhirnya berikrar akan menghentikan pembelian kapal dari luar negeri. ''Tidak boleh lagi pesan (kapal) ke luar (negeri),'' tegas Jokowi. Serius? ''Kami berharap itu bukan hanya omongan, tetapi segera direalisasikan,'' kata Ir Cahya, Ketua Apindo Kepri.

PT Anggrek Hitam, PMA yang berdiri sejak 2008, saat ini sedang menggarap 2 kapal tanker pesanan PT Pertamina yang berbobot 17.500 LDWT (long ton dead weight). Kapalnya bakal dinamai MT (motor tanker) Pattimura dan MT Parigi. Tahun lalu, di galangan seluas 10 hektar yang punya bibir laut dalam selebar 300 meter ini, sudah dirampungkan kapal tongkang pengangkut pupuk (self-propelled urea barge) pesanan PT Pupuk Sriwijaya Palembang berkapasitas 8.500 MT (metrik ton). Selain kapal-kapal besar itu, PT Anggrek Hitam juga melayani pembuatan kapal kargo, kapal tongkang, dan segala jenis kapal lainnnya, serta perbaikan kapal dan prasarana kemaritiman lainnya.

Peta & Citra Satelit

Anggrek Hitam Shipyard

PT Anggrek Hitam
Jl. Raya Pelabuhan Kabil
Kampung Baru
Kelurahan Kabil
Kecamatan Nongsa - 29466
Kota Batam
Kepulauan Riau

Tel: 0778-2101065, 2101066, 2101067
Fax: 0778-2101101

Website: www.anggrekhitam.com


Notes: Google Map sudah punya citra satelit kawasan Pelabuhan Kabil, Batam. Hanya saja, area galangan kapal Anggrek Hitam masih tampil berupa rerimbunan pohon. Here.com sudah punya yang lebih bagus. Silakan simak foto di atas, atau datang langsung ke Here.com - Anggrek Hitam

Kapal Tanker Pertamina

Jokowi melihat sendiri proses pembuatan 2 kapal tanker pesanan PT Pertamina di galangan kapal PT Anggrek Hitam (Anggrek Hitam Shipyard), yang berbobot 17.500 LTDW. Sejak kapan kapal itu dipesan? Entahlah. Yang pasti, Pertamina, lewat anak perusahaannnya PT Pertamina Shipping, mengumumkan rencana itu sejak Oktober 2013. Tak hanya kedua kapal itu yang dipesan, melainkan juga 10 unit kapal tanker lainnya. Rincian pesanannya: kepada PT PAL (Persero) dipesan 2 unit, PT Anggrek Hitam 2 unit, PT Multi Ocean Shipyard 1 unit, PT Daya Radar Utama Unit II Lamongan 1 unit, dan 5 unit lagi di pesan ke galangan di luar negeri.

Kapal-kapal yang dipesan di galangan lokal itu, yang rencananya akan dipakai mengangkut minyak mentah, kata Senior Vice President PT Pertamina Shipping, Muchamad Yudhie RF, adalah kapal-kapal yang berbobot di bawah 85.000 LTDW (long ton dead weight) atau DWT.

''Galangan domestik belum mampu membuat kapal-kapal tipe gas dan berbobot 85 ribu DWT. Jadi kami pesan di luar negeri,'' kata Muchamad Yudhie, saat serah terima salah satu kapal pesanan Pertamina di galangan kapal PT Dumas Tanjung Perak Shipyard, di Tanjung Perak, Surabaya.

Selain kapal yang baru dipesan tadi, pada Oktober 2013 itu Pertamina juga sedang menunggu penyelesaian 12 kapal yang dipesan ke berbagai galangan. Adapun saat itu, Pertamina sudah memiliki 59 unit kapal milik sendiri, dari total 200 unit kapal yang dioperasikannya.

Maret lalu, PT PAL menyerahkan kapal tanker ke-dua yang dipesan Pertamina. Yakni MT Pangkalan Brandan yang berbobot 17.500 LTDW. Kapal pertama, MT Pagerungan, sudah diserahkan pada November 2014. Tak diketahui apakah kedua kapal tanker ini merupakan kapal yang dipesan pada Oktober 2013 yang disebut di awal tadi.

Adapun tradisi memesan kapal tanker ukuran besar ke luar negeri sudah dilakukan Pertamina sejak lama. Pada Juni 2007, misalnya, Pertamina memesan 2 kapal tanker berbobot 85.000 LTDW ke galangan kapal Jiangsu Eastern Shipyard di China. Kedua kapal itu ditargetkan rampung pada Juli 2010 dan akan bisa dipakai hingga jangka waktu 25 tahun.

So, kapan Indonesia bisa bikin kapal tanker berbobot 85.000 LTDW? Ya tidak tahu.

Saat berkunjung ke Batam, Jokowo sendiri sempat memaparkan data kemampuan galangan kapal nasional. Disebutkan, jenis kapal yang telah mampu diproduksi oleh industri perkapalan nasional antara lain kapal curah (bulk carrier) sampai dengan 50 ribu DWT, kapal ferry Ro-Ro sampai 19 ribu DWT, kapal tanker 30 ribu DWT, landing craft tank, LPG carrier, kapal penumpang, kapal patroli cepat, dan lain-lain.