Satu Indonesia, Berjuta-juta Places-nya
//EMPTY DIV!!
//EMPTY DIV!!

Museum Transmigrasi, Kabupaten Pesawaran

Senin, 28 April 2014 13:10:48
photo: rizal mokhtar / panoramio

Banyak orang Jawa tinggal di Suriname, Belanda. Mereka datang atau dipindah ke sana sejak 1905. Di tahun yang sama, penjajah Belanda juga memindahkan orang Jawa ke Lampung. Rombongan pertama, 155 KK asal Bagelen, Kedu, Jawa Tengah, ditempatkan di Gedong Tataan. Area kolonisasi atau transmigrasi itu sekarang dikenal sebagai Desa Bagelen, yang masuk wilayah Kecamatan Gedong Tataan: ibukota Kabupaten Pesawaran. Di lokasi trasmigran pertama itulah, yang berseberangan dengan komplek kantor Bupati Pesawaran, sekarang telah berdiri bangunan megah bernama Museum Transmigrasi.

Museum Transmigrasi ini, yang biasa pula disebut Museum Nasional Ketransmigrasian, memang dibangun untuk merekam jejak perjalanan ketransmigrasian di Indonesia. Terutama sekali merekam dan memuseumkan cara-cara produksi para transmigran. Berdiri di atas lahan seluas 20 hektar (awalnya 5,4 hektar), tampil bagaikan Taman Mini Indonesia Indah: punya banyak anjungan yang mewakili daerah-daerah trasmigrasi. Dibangun sejak 2005, dan akhirnya dibuka pada 2010, pada masa awalnya, Museum Transmigras ini punya 10 anjungan. Salah satunya adalah anjungan Lampung. Ini bukan hanya karena Lampung jadi tuan rumah bagi para transmigran, tapi juga karena warga Lampung dulu juga ikut translokal atau transmigrasi lokal.

Peran transmigran dalam menghidupkan suatu provinsi terbilang penting. Di Lampung, para transmigran telah menghidupkan 13 kabupaten/kota. Adapun yang tercatat sebagai daerah otonom yang benar-benar berasal dari daerah transmigrasi adalah Kabupaten Mesuji dan Kota Metro. Sedangkan secara nasional, menurut catatan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, hingga 2007, para transmigran tercatat telah berperan dalam mendorong terbentuknya 235 kecamatan baru dan 66 kabupaten baru.

Dibangun dengan dana dari APBN, Museum Transmigrasi ini sekarang dikelola oleh UPTD Museum Transmigrasi, salah satu UPTD di bawah Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Lampung. Selain menjalankan fungsi kemuseumannya, gedung museum 3 lantai itu, dan juga halaman museum, terbuka bagi berbagai kegiatan publik dan kepemerintahan. Ketika tahun lalu Pemkab Pesawaran menerima bantuan anggaran Rp 64 miliar dari Pemprov Lampung misalnya, acara serah terimanya dilangsung di museum. Juga, pada Desember 2013, museum jadi saksi serah terima dana pinjaman Rp 50 miliar dari Pusat Investasi Pemerintah untuk pembangunan RSUD Pesawaran tahap III. Maret lalu, ribuan massa dari berbagai partai pun hadir di halaman museum guna menghadiri Kirab Karnaval dan Deklarasi Damai.

Peta & Citra Satelit

Museum Transmigrasi

Museum Ketransmigrasian
Desa Bagelen
Kecamatan Gedong Tataan
Kabupaten Pesawaran
Provinsi Lampung



Pengelola:
UPTD Museum Transmigrasi
Disnakertrans Provinsi Lampung
Jl. Gatot Subroto No. 28
Tanjung Karang
Bandar Lampung

Tel: 0721-252605, 262817
Fax: 0721-262856, 258630

Website: http://disnakertrans.lampungprov.go.id

Bola Besi Raksasa

Bola besi berantai, kalau ukurannya kecil, mengingkatkan kita pada narapidana dalam film-film jadul. Kalau ukuran bola besi berantainya lebih besar lagi, kita ingat bola besi yang biasa dipakai menghantam dan merobohkan gedung. Kalau bola besinya berdiameter 1,4 meter, seperti yang dijadikan monumen di halaman Museum Transmigrasi, dipakai untuk apa? Ternyata, bola besi kosong itu dipakai untuk merobohkan pohon-pohon besar dalam rangka pembersihan lahan transmigrasi. Ketika dipakai, bola besinya lebih dahulu diisi air agar semakin berat.

Monumen bola besi raksasa itu termasuk satu di antara 254 koleksi Museum Transmigrasi. Sampai sekarang, koleksinya terus bertambah: baik hasil sumbangan maupun hasil berburu. Pada 2012 lalu, misalnya, museum berhasil mendapatkan 3 roll film dokumenter ketransmigrasian, berikut proyektornya. Pihak musum pun secara terbuka mengundang berbagai pihak menyumbangkan benda-benda menyangkut ketransmigrasian. Wujudnya bisa apa saja: alat pertukangan, alat rumah tangga, alat pertanian, peralatan dapur, dan alat kesenian. Pihak museum siap membayar biaya ganti rugi jika memang dikehendaki, karena memang ada anggaran pengadaan koleksi.

Kalau sudah berurusan dengan anggaran, seperti biasa, aroma korupsi pun tercium. Dan itu memang terjadi di Museum Transmigrasi ini. 17 Maret 2014 lalu, Kejaksaan Tinggi Lampung memanggil tiga pegawai museum untuk ditanyai terkait dugaan korupsi tahun anggaran 2013 senilai Rp 2 miliar di Disnakertrans Lampung. Dari jumlah itu, Rp 155 juta di antaranya adalah dana untuk pengadaaan koleksi museum. Sisanya untuk kegiatan ketransmigrasian lain, di antaranya: angkutan transmigrasi dan barang bawaan, Rp 570 juta, pengadaan alat mesin pengolahan pupuk organik, Rp 1,5 miliar; dan pengadaan pembekalan transmigrasi Rp 114,4 juta.