Satu Indonesia, Berjuta-juta Places-nya
//EMPTY DIV!!
//EMPTY DIV!!

Pemerintah Kabupaten Kepahiang

Rabu, 20 Mei 2015 23:33:47
photo: julian siregar / panoramio

Mau kaya? Tanam pohon Sengon. Itu nasehat Bupati Kepahiang Bando Amin C Kader. Juga, itu adalah program yang dijalankannya untuk memakmurkan salah satu kabupaten di Provinsi Bengkulu yang dipimpinnya. Tertarik? Bupati Bungo Sudirman Zaini pun tertarik. Ia berniat menanam Sengon di 15 ribu hekar lahan tidur di kabupatennya, di Provinsi Jambi. Siapa lagi yang tertarik? Dari Sumatera Utara, Bupati Serdang Bedagai Soekirman sudah pula datang untuk 'berguru'. Benar-benar menguntungkankah menanam pohon Sengon? Pak Bupati yakin begitu. April lalu ia baru saja melakukan panen perdana kayu Sengon. Mei ini, pabrik kayu lapis berbahan kayu Sengon dijadwalkan akan mulai berproduksi.

Soal seberapa menguntungkan berbisnis pohon Sengon, mungkin bisa disimak penjelasan 'Raja Sengon' yang didatangkan ke Kepahiang oleh sang bupati. Orangnya tak lain adalah H Aryadi, direktur PT Mekar Abadi, pengusaha Sengon asal Wonosobo, Jawa Tengah, yang kerap dijuluki 'Raja Sengon'. Sabtu pekan lalu, 16 Mei 2015, Aryadi jadi pembicara di Pekan Daerah Kontak Tani Nasional Andalan (PEDA KTNA) Ke-XV Se-Propinsi Bengkulu yang digelar di Kepahiang.

''Sengon ini memang membuat kita kaya. Ini sudah saya alami. Jadi, program Pak Bando ini bukan ngapusi atau bohong. Di Wonosobo itu seluruh tanah sudah ditanami sengon. Masyarakatnya sekarang sudah kaya-kaya, punya rumah, punya mobil dan uangnya banyak dari hasil panen sengon. Sebab, harga sengon dengan diameter 25 cm ke atas sudah Rp 600 ribu per kubik. Dalam 1 kubik itu hanya membutuhkan 1-2 batang sengon. Kalau 1 hektare, bisa ditanami 1.000 batang dengan jarak 3 x 3 meter. Jadi jaraknya tidak terlalu dekat,'' kata Ariyadi.

Dan soal pabrik tripleks yang sudah disinggung di awal tadi, Aryadi mengaku kalau pihaknya yang jadi investor, lewat PT Kepahiang Mulia Lestari. ''Sekarang pabriknya sudah mulai jalan dan sudah menampung sengon petani, kata Ariyadi. Sebelumnya, ia memang pernah datang meninjau pabrik miliknya dan sempat bilang kalau pabriknya akan beroperasi pertengahan April 2015. Ia juga cerita kalau pabriknya di Jawa membutuhkan 4 ribu kubik kayu setiap hari. Kebutuhan itu dipenuhinya dari sekitar 1,5 juta hektar kebun sengon di Jawa, tepatnya di Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Temanggung. Sebagian produk pabrik kayu lapisnya diekspor ke China, Eropa dan Timur Tengah.

Siapapun tahu, bisnis Sengon bukan bisnis jangka pendek. Perlu bertahun-tahun untuk menunggu pohon Sengon tumbuh tinggi dan jadi layak dipanen. Bupati Bando Amin sendiri memulai program Sengonnya sejak ia mulai menjabat pada 2010 dan baru pada 20 April 20 2015 ia melakukan panen perdana sengon di Desa Suro Muncar, Kecamatan Ujan Mas. Jumlah Sengon yang ditanam di sana sejak 2010 mencapai 3.800 batang dan dikelola oleh Kelompok Tani Sengon Mas. Usai memanen secara simbolis, Bupati Bando Amin mengajak rombongan panen untuk meninjau pabrik pengolahan sengon di desa Muara Langkap, Kecamatan Bermani Ilir, yang akhir tahun lalu ia sebut akan beroperasi Mei 2015.

Program dengan slogan ''Mau Kaya Tanam Sengon'' itu sebenarnya bukan program tunggal. Ia bagian dari Program SILUNA, singkatan dari Singon, Kopi Luwak dan Buah Naga. Program ini juga bagian dari Program IKUTT (Ikan, Kebun, Tanaman Pangan Hortikultura dan Ternak). Keseluruhan programm inilah yang dikenalkan Bando Amin kepada dua rekannya yang sudah bertamu: Bupati Bungo Sudirman Zaini yang datang pada Mei 2014 dan Bupati Serdang Bedagai Soekirman pada Oktober 2014. Karena saat berkunjung tak ada pohon Sengon yang siap panen, kedua bupati itu diajak melakukan panen Buah Naga di desa Pematang Donok, meninjau sentra ikan sidat jaring apung di desa Suro Ilir, dan sentra pembibitan sengon di desa Tebat Monok.

Kalau Bupati Serdang Bedagai memundurkan kunjungannya satu bulan, ke November 2014, mungkin ia akan diajak melihat satu lagi tanaman yang diunggulkan Bupati Kepahiang. November tahun lalu, ia memulai penanaman perdana Talas Satoimo, alias talas Jepang, di Desa Kandang, Kecamatan Seberang Musi. Prospek bisnisnya? Untuk yang satu ini, Pak Bupati tak perlu pinjam mulut. Ia bilang: 1 hektar bisa ditanami 24.000 batang Satoimo. Jika satu batang menghasilkan 1 kilogram saat umur 4 bulan panen, maka hasilnya adalah 24 ton. Harga 1 kilogram Satoimo bisa mencapai 3 ribu rupiah, jadi Rp. 3.000,- x 24.000 = Rp 72.000.000,-. ''Dengan penghasilan sebesar itu hanya dalam 4 bulan, 'kan bisa mensejahterakan petani,'' kata Bupati Bando Amin C Kader.

Talas Jepang itu rencananya akan diekspor ke Jepang bekerjasama dengan Koperasi Satmakura, koperasi yang sang bupati jadi pembinanya. Sebelumnya, koperasi ini juga berperan dalam ekspor kopi luwak Kepahiang ke Jepang. Importirnya, Takuro Naruse, President Sweets Magic, produsen sweets pudding dan sweets chocolate di Nagoya, juga sudah pernah datang ke Kepahiang untuk meninjau Program SILUNA pada Februari 2012. Ketika itu pula, Takuro mengabarkan bahwa kopi luwak yang diimpornya dari Kepahiang mulai Februari itu akan digunakan sebagai bahan baku sweets pudding buatan perusahaannya dan juga akan memakai 'Kepahiang' sebagai 'brand'. Dalam kunjungannya, Takuro juga sempat mencicipi Talas Satoimo yang sudah mulai ditanam kecil-kecilan. Dan kalau November lalu Kepahiang baru mulai menanam Talas Satoimo secara serius, dua bulan sebelumnya, September 2014, Bupati Banggai Kepulauan Lania Laosa melakukan ekspor perdana Talas Satoimo ke Jepang sebanyak 8 ton.

Jadi, kembali ke Sengon, kapan kita bisa melihat Bupati Bando Amin berfoto di depan tumpukan lembaran kayu lapis hasil olahan kayu sengon? Sekarang sudah pertengahan Mei, tapi belum terdengar kabar Pak Bupati meresmikan pabrik kayu lapis. Tapi jangan khawatir, besok-besok pasti terdengar beritanya. Soalnya, Bupati Bando Amin akan berakhir masa jabatannya pada Agustus 2015 mendatang. Nggak lucu 'kan kalau di masa kebupatiannya dia tak melihat sosok kayu lapis made in Kepahiang. Atau mungkin kita harus menunggu tahun depan, setelah ia berhasil dengan pencalonannya sebagai calon gubernur Lampung?

Mungkin juga kita tidak akan pernah melihat kayu lapis buatan Kepahiang. Soalnya, sejak 8 Mei lalu, sebanyak 35 kubik (18 ton) balken sengon --batangan sengon yang sudah diolah menjadi balok sepanjang 130 cm-- justru diangkut truk dan dikirim PT Kepahiang Mulia Lestari ke pabrik kayu lapis di Wonosobo. Dengan kata lain, Kepahiang cukup jadi penyedia bahan baku kayu lapis saja. Dengan kata lain pula, ribut-ribut korupsi pengadaan mesin tripleks senilai Rp 2,3 miliar di Kepahiang pada 2013 lalu sebenarnya soal pembelian mesin pembelah kayu sengon. Tripleks ternyata tak bermakna kayu lapis (plywood). Istilah pun sudah di-mark-up maknanya.

Peta & Citra Satelit

Kantor Bupati Kepahiang

Pemerintah Kabupaten Kepahiang
Komplek Perkantoran Pemkab Kepahiang
Jl. Aipda Mu'an
Kabupaten Kepahiang

Tel:: 0732-3930044

Website: www.kepahiangkab.go.id

Kecamatan di Kepahiang

Kabupaten Kepahiang terbentuk lewat UU No 29 tahun 2003, bersama dengan Kabupaten Lebong. Keduanya sama-sama pemekaran dari Kabupaten Rejang Lebong.

Kecamatan di Kabupaten Kepahiang:
  1. Muara Kemumu
  2. Bermani Ilir
  3. Seberang Musi
  4. Tebat Karai
  5. Kepahiang
  6. Kabawetan
  7. Ujan Mas
  8. Merigi