Indonesia meets Google Places and Facebook Places
MV Karadeniz Powership Gokhan Bey, Pembangkit Listrik Terapung Kupang
Kamis, 06 April 2017 12:31:07
photo: gokhan bey di pltu bolok / karadeniz energy
Dari 3 kapal pembangkit listrik terapung yang disewa PLN dari Turki, dan sudah tiba di Indonesia, MV Karadeniz Powership Gokhan Bey terbilang istimewa. Bukan karena spesifikasi teknis kapalnya, tapi karena keberangkatannya ke Indonesia, 13 November 2016, dilepas langsung Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Tidak sendirian, tapi bersama 3 kapal pembangkit listrik lainnya: MV Karadeniz Powership Osman Khan ke Ghana, MV Karadeniz Powership Onur Sultan ke Myanmar, dan MV Karadeniz Powersip Yasin Bey ke Indonesia juga. Tapi kapal terakhir ini baru benar-benar berangkat pada awal Januari 2017.

MV Karadeniz Powership Gokhan Bey, sebulan kemudian, 18 Desember 2016, akhirnya sampai ke Indonesia. Tepatnya, dia merapat di Pelabuhan Tenau, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Adapun tujuan akhirnya adalah dermaga PLTU Bolok yang berada agak jauh di sisi timurnya, di Desa Bolok, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang. Setelah kapal akhirnya siap beroperasi, Presiden Jokowi datang ke PLTU Bolok dan meresmikan penggunaannya. Yang ikut hadir di sana antara lain Menteri BUMI Rini Soemarno, Dirut PLN Sofyan Basir, dan DubesTurki Mehmet Kadri Sander Gurbuz. Gokhan Bey menjadi kapal pembangkit listrik terapung ke-dua yang beroperasi di Indonesia.

Seperti kapal pembangkit listrik terapung lain yang disewa PLN dari Tukri, MV Karadeniz Powership Gokhan Bey juga mampu menghasilkan listrik hingga 125 MW. Tapi seperti MV Karadeniz Powership Yasin Bey yang ditempatkan di PLTU Waai, Maluku Tengah, MVPP (marine vessel power plant) di Kabupaten Kupang ini hanya disewa untuk menghasilkan listrik hingga 60 MW saja, selama periode 5 tahun ke depan. Dan saat Jokowi meresmikannya, Gokhan Bey baru menghidupkan sebagian dari 6 mesinnya dan menghasilkan listrik 20 MW. Diyakini pembangkit itu bisa bekerja maksimal menghasilkan listrik 60 MW setelah sebulan beroperasi.

PLTU Bolok sendiri, sebaggai pembangkit listrik tenaga uap yang berbahan bakar batubara, tergolong pembangkit kecil. Kapasitasnya, kalau kedua mesin dan turbinnya hidup semua, hanya 2 x 16,5 MW. Listrik dari PLTU Bolok, beserta PLTD Tenau (47 MW) dan PLTD Kuanino (10MW) disalurkan untuk melayani masyarakat di Kabupaten Kupang dan Kota Kupang. Kelak, lewat tambahan listrik dari MVPP Gokhan Bey, PLN akan mensuplai listrik hingga ke Atambua, ibukota Kabupaten Belu yang ada di sebelah timurnya.

Sebelum disalurkan, listrik dari kapal Turki, yang punya output 150 KV, harus diturunkan tegangannya menjadi 70 KV, sesuai spesfikasi jaringan tegangan tinggi di Gardu Induk Bolok. Diyakini, kapasitas kelistrikan baru itu PT PT PLN (Persero) Wilayah Nusa Tenggara Timur bisa melayani hingga 230 ribu pelanggan baru.
PT Kar Powership Indonesia
Menara Prima, Lantai 17, Unit B
JI. DR Ide Anak Agung Gde Agung Blok. 6.2
Kawasan Mega Kuningan,
Kelurahan Kuningan Timur
Kecamatan Setiabudi
Jakarta Selatan

Tel: 021-57954020, 57948428

Website: www.karpowershipindonesia.co.id

Karadeniz Powership - www.karpowership.com
Karadeniz Energy - www.karadenizenergy.com
Karadeniz Holding - www.karadenizholding.com


PLTU Bolok
Desa Bolok
Kecamatan Kupang Barat
Kabupaten Kupang
Nusa Tenggara Timur


PT PJB Services
Raya Juanda No. 17
Kabupaten Sidoarjo
Jawa Timur

Tel: 031-8548391, 8557909
Fax: 031-8548360

Website: www.pjbservices.com

Simak juga:
MV Karadeniz Powership Yasin Bey, Pembangkit Listrik Terapung Maluku Tengah
MV Karadeniz Zeynev Sultan, Pembangkit Listrik Terapung Minahasa Selatan
PLTU Bolok terbilang pembangkit listrik tenaga uap yang masih baru. Ia resmi beroperasi mulai 1 Oktober 2013. Yang menjadi operatornya dalah PT PJB Services, anak perusahaan PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB), yang merupakan anak perusahaan PT PLN (persero). Dengan kapasitasnya yang 2 x 16,5 MW, PLTU Bolok diharapkan bisa menstabilkan listrik di Pulau Timor yang beban puncaknya saat itu mencapai 59 MW (beban puncak seluruh NTT 119 MW). Sebelum ada PLTU berbahan bakar batubara itu, kelistrikan Pulau Timor dilayani PLTD Tenau (47 MW) dan PLTD Kuanino (10MW).

Biaya pembangunan PLTU Bolok mencapai Rp 450 milyar. Per tahunnya, pembangkit di Desa Bolok, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, ini butuh batubara sebanyak 19 juta ton. Pengoperasiannya pada bulan Oktober, menurut PT PJB Services, terbilang mundur 5 bulan dari rencana. Penyebabnya, ada seorang warga yang menolak di Kelurahan Maulafa, Kota Kupang, yang menolak pembangunan tower transmisi 70 KV yang lokasinya kebetulan berada di sebelah rumahnya. Penolakan ini disayangkan karena proses sosialisasi keamanan jaringan transmisi tegagangan tinggi sudah dilakukan sejak 2009. Tapi akhirnya menara itu akhirnya bisa dibangun juga.

PLTU Bolok sendiri, saat MV Karadeniz Powership Gokhan Bey diresmikan pengoperasiannya, sedang tidak sehat. Menteri BUMN Rini Soemarno yang datang mendampingi Jokowi, secara khusus sempat meninjau PLTU Bolok. Ternyata, ''Dari dua mesin ada, yang beroperasi hanya satu. Yang satu lagi, boiler atau ketel uapnya rusak, sehingga pengoperasiannya berhenti,'' terang Rini. Meski begitu Rini tak terlalu kecewa karena pengelola PLTU sudah memesan boiler baru. ''Saat ini masih dipesan. Kemungkinan sekitar Februari atau Maret, mesin yang rusak itu sudah bisa beroperasi, kata Rini, menyebut bulan Februari dan Maret 2017.

Sejak kapan boiler itu rusak? Rini tak cerita. Meski begitu ada berita kalau boiler itu rusak mulai 2 Desember 2015 atau sudah setahun lebih. Uniknya, kerusakan itu terjadi saat Ketua Komisi V DPR-RI Fary Francis dan anggota DPR lainnya sedang meninjau PLTU Bolok. Alkisah, rombongan wakil rakyat itu tiba di PLTU Bolok sekitar pukul 15.30. Mereka lantas mendapatkan penjelasan panjang-lebar dari Machnizon, direktur Regional PT PLN Wilayah Sulawesi dan Nusa Tenggara. Tepat pukul 16.20, wakil rakyat Fary Francis mendapat giliran bicara. Tapi begitu akan bicara, listrik padam. Ketika peserta pertemuan melihat keluar, terlihat asap berwarna putih mengepul dari gedung tempat mesin PLN unit dua, yang berada 200 meter dari ruang pertemuan. Para pekerja pun lantas terlihat sibuk memadamkan api. 5 mobil unit pemadam kebakaran yang datang akhirnya bisa memadamkan api setelah 1 jam terjadi kebakaran.

Ibu Menteri dan anggota DPR tak menengok PLTU yang lain lagi, yang ada di lokasi yang sama? Lho, memangnya ada? Katanya sih ada. Namanya PLTU Kupang Baru (2x18 MW). Dibangun PT Santosa Makmur Sejahtera Energi, PLTU ini dulu dikabarkan akan beroperasi mulai Juni 2016. Sudah beroperasi? Entahlah. Tak ada lagi kabarnya. Yang jelas, yang dulu sibuk bicara soal PLTU Kupang Baru adalah Menko Kemaritiman Indroyono Soesilo.

Yang juga pasti, PT Santosa Makmur Sejahtera Energi masih hadir di sana. Akhir Januari 2017 lalu, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi melakukan inspeksi ke PLTU Bolok karena mendapat bisikan kalau disana ada 34 pekerja ilegal asal China. Setelah diverifikasi, ternyata benar. Ada 34 pekerja asal China, yang 12 di antaranya tak punya izin kerja resmi. Mereka bekerja untuk PT Santosa Makmur Sejahtera Energi. Berarti mereka itu pekerja PLTU Kupang Baru dong, bukan PLTU Bolok? Entahlah. Berbagai media menulis kalau yang diinspeksi dan yang memiliki TKA China adalah PLTU Bolok.

Bagaimana dengan pembangkit terapung Gokhan Bey? Ada tenaga kerja ilegal asal Turki? Pihak PT Kar Powership Indonesia pun akhirnya ikut memberikan penjelasan. Terutama karena ketika itu sejumlah media mengabarkan bahwa selain 12 TKA ilegal China, ada juga 34 TKA Turki ilegal yang bekerja di MV Karadeniz Powership Ghokan Bey. Isi penjelasan Powership Indonesia tak lain berupa penegasan bahwa seluruh tenaga kerja yg bekerja di Ghokan Bey merupakan pekerja resmi dan memiliki izin untuk bekerja di Indonesia.