Indonesia meets Google Places and Facebook Places
Pemerintah Kota Palu
Selasa, 31 Maret 2015 11:27:54
photo: wahyu sanyoto / panoramio
Rusdi Mastura hadir di Bandung pada 28 November 2010. Walikota Palu ini menjadi saksi ketika Pasha Ungu melamar wanita yang kemudian jadi istri ke-dua-nya: Dellia Wilhelmina. Tahun 2015 ini, masa jabatan Rusdi Mastura sebagai walikota Palu bakal berakhir. Dan seperti sudah umum diketahui, Pasha Ungu siap maju sebagai calon walikota Palu periode berikutnya. Akankah Rusdi Mastura mendukung putra sahabat dekatnya, Syamsuddin Said, menjadi penerus kepemimpinannya?

Boleh jadi, Walikota Palu Rusdi Mastura takkan mendukung Sigit Purnomo Syamsuddin Said, alias Pasha Ungu, vokalis band Ungu. Tentunya bukan karena alasan personal, tapi lantaran statusnya saat ini yang juga jadi Ketua DPD I Golkar Sulawesi Tengah, dan setelah sebelumnya, sebagai Ketua DPD II Golkar Kota Palu, bersikeras agar Jusuf Kalla menjadi 'pandita' saja, menjadi 'bapak bangsa', dan tak usah mencalonkan diri jadi presiden pada Pilpres 2009. Sedangkan Pasha Ungu, seperti kebanyakan selebriti muda lainnya, lebih suka merapatkan barisan ke partai-partai bendera biru: Partai Demokrat dan Partai Amanat Nasional. Lewat keduanya pula kelak Pasha Ungu akan secara resmi mendaftarkan dirinya sebagai calon resmi Walikota Palu pada Pilkada Desember 2015 mendatang.

Syamsuddin Said, ayah Pasha Ungu, memang orang top di Sulawesi Tengah, tokoh politik, dan sahabat Rusdi Mastura. Kakek banyak cucu ini di Sulteng dikenal gemar menempati jabatan berbagai ketua asosiasi bisnis: Gafeksi, Hippi, Apnatel, Kukmi, Kadin, dll. Di tingkat nasional, ia antara lain menjadi ketua umum Asosiasi Pertambangan Emas Rakyat Indonesia (Asperi). Di jagad politik, Syamsuddin Said pernah menjadi Ketua Partai Rakyat Demokrat Sulteng, partai yang sempat ikut pemilu 2009. Pada 2002, dia jadi Ketua Pendiri Partai Demokrat Sulteng. Di masa sebelumnya, sama seperti sahabatnya yang kini jadi walikota Palu, dia menjadi pengikut setia bendera kuning sejak 1973.

Ayah Pasha Ungu juga pernah mencoba jadi calon bupati Kabupaten Donggala, daerah yang jadi tempat lahir Pasha, dengan menggandeng Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Bulan Bintang. Sayang, ia gagal bertanding karena persyaratan pencalonannya kurang lengkap. Pada pemilu 2014 lalu, seperti sudah menjadi tradisinya sejak 1977, Syamsuddin Said kembali jadi caleg. Tahun lalu, ia jadi caleg DPD-RI mewakili Dapil Sulawesi Tengah. Meski sudah menjual popularitas Pasha Ungu saat berkampanye, ia tak sukses melenggang ke Senayan.

Perjalanan politik sang ayah yang tak selalu mulus, boleh jadi menjadi alasan kuat Pasha Ungu untuk menseriusi pencalonannya sebagai walikota Palu. Ia tak ambil pusing dengan doa teman-teman Ungu yang ingin dia gagal. Pekan lalu misalnya, Alumni SMAN 2 Palu ini terus sibuk mempersiapkan diri dan belusukan sana-sini. Sang ayah ikut sibuk? Tak ada kabar resmi tentang hal itu. Tapi yang jelas, orang Sulteng sudah tak asing dengan sosok Sigit Purnomo dan Syamsuddin Said. Apalagi keduanya memang sering tampil bareng, termasuk saat tahun lalu keduanya berduet menyanyikan 'Demi Waktu' saat peresmian Bandara Mutiara Sis Aljufri.

Pasha sibuk bersiap maju, Rusdi Mastura sibuk bersiap mundur. Rusdi memang harus mundur karena sudah memimpin Palu sejak 2005 alias sudah menjabat dua periode. Tentang hal ini ia pernah cerita, ketika pertama kali menjadi calon walikota Palu, ia menghabiskan dana Rp 600 juta. Pada pencalonan kedua, biayanya berlipat ganda menjadi Rp 2 miliar. Tapi, soal biaya terakhir, ia bilang dana pribadinya cuma Rp 400 juta, dan sisa-sisanya dari teman-teman. Adapun gajinya saat itu, sebagai walikota, Rp 6.150.000.

Sanggupkah Pasha Ungu mengucurkan dana miliaran seperti Rusdi? Sepertinya bisa. Tapi mungkin juga tak perlu sebanyak itu. Soalnya, sesuai UU Pilkada yang baru, biaya kampanye pilkada sekarang ini ditanggung oleh APBD. Untuk Pilkada Palu Desember 2015 mendatang, KPU Kota Palu sudah mengajukan anggaran sebesar Rp 25,4 miliar. Dari jumlah itu, Rp 7,9 miliar di antaranya akan disalurkan kepada para calon walikota untuk kampanye.

Kembali ke Rusdi Mastura: banyak orang yakin, Cudy --begitu nama panggilannya-- bakal mengakhiri kepemimpinannya dengan mulus. Ia dianggap sukses memimpin kota Palu. Pekan lalu pun, ia baru saja menerima Sindo Weekly Government Award yang diserahkan Ketua DPD-RI Isman Gusman. Adapun tim juri award itu diketuai Sekjen DPD-RI Prof Dr Sudarsono Hardjosoekoarto.

Cudy juga sudah mulai menitipkan program yang belum ia rampungkan dan ia harap bisa dilanjutkan walikota selanjutnya. Program itu adalah zero poverty alias program berkelanjutan untuk meminimalisir angka kemiskinan. Tentang program ini, sejak awal pun World Bank pun pernah ikut mencatatnya. Rusdi mengurangi kemiskinan lewat PDPM (Program Daerah Pemberdayaan Masyarakat) sebagai kelanjutan PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat). Lewat program lokal itu --yang juga diterapkan di Aceh lewat BKPG (Bantuan Kesejahteraan Peumakmue Gampong) dan RESPEK (Rencana Strategis Pembangunan Kampung) di Papua dan Papua Barat--, pada 2010 Kota Palu berhasil menurunkan rumah tangga miskin dari 13.000 menjadi 11.000. Alias membebaskan 2.000 rumah tangga dari garis kemiskinan.
Pemerintah Kota Palu
Jl. Balai Kota No. 1
Kecamatan Palu Timur
Kota Palu
Sulawesi Tengah

Tel: 0451-421666


Website: www.palukota.go.id
Kecamatan di Kota Palu:
  1. Palu Barat
  2. Tatanga
  3. Ulujadi
  4. Palu Selatan
  5. Palu Timur
  6. Palu Utara
  7. Mantikulore
  8. Tawaeli