Satu Indonesia, Berjuta-juta Places-nya
//EMPTY DIV!!
//EMPTY DIV!!
//EMPTY DIV!!

Pemerintah Kabupaten Jember

Jumat, 21 Juli 2017 01:50:03
photo: kantor bupati jember / google street view

Tahun 2010, orang sakit, alias pendapatan dari rumah sakit umum daerah, jadi penyumbang PAD terbesar bagi Kabupaten Jember: Rp 82,5 miliar dari total PAD yang Rp 150 miliar. Tahun-tahun berikutnya begitu juga. ''Ironis,'' kata banyak orang. ''Orang sakit kok diperah,'' kata para wakil rakyat. Sejak Februari 2016, seorang ibu dokter, yang juga direktur utama sebuah rumah sakit swasta, dr Hj Faida MMR, resmi menjadi bupati Jember. Berakhirkah era nge-laba dari orang sakit? Tentu tidak. Hingga 2017 ini, BLUD rumah sakit di Jember masih jadi primadona pengumpul PAD.

Sama seperti pada 2010, rumah sakit pelat merah yang sampai sekarang jadi penghasil PAD Kabupaten Jember adalah RSD dr Soebandi, RSUD Kalisat, dan RSUD Balung. Sekarang ketiganya sudah berstatus BLUD atau Badan Layanan Umum Daerah. Pendapatan yang dihimpun ketiganya berasal dari pasien rawat inap, rawat jalan, obat-obatan, ambulan, dan berbagai jaminan kesehatan. Soal besarnya pendapatan, RSD dr Soebandi (memang begitu namanya: bukan RSUD dr Soebandi) berada di urutan teratas. Pada 2011, ketika rumah sakit menyumbang Rp 92,7 miliar dari total PAD yang Rp 200 miliar, RSD dr Soebandi menyetor Rp 70 miliar. Sisanya dari RSUD Kalisat, RSUD Balung dan 49 Puskesmas yang ada di Jember.

Pada tahun 2013, rumah sakit tetap jadi andalan penghimpunan PAD. RSD dr Soebandi ditargetkan meraih Rp 105 miliar, RSUD Balung Rp 18,2 miliar, RSUD Kalisat sebesar Rp 7,2 miliar. Pemain lain di sektor kesehatan yang juga ditargetkan ikut memberikan sumbangan besar adalah Dinas Kesehatan: Rp 22,7 miliar. Tahun berikutmya, 2014, ketika total PAD ditargetkan Rp 459,9 miliar, para rumah sakit diharap menyumbang Rp 200 miliar. Dan akhirnya, 2017, ketika total PAD ditargetkan sebesar Rp 526,3 miliar ---dan APBD Jember 2017 sudah mencapai Rp 3,513 triliun ---, rumah sakit ditargetkan bisa menyumbang PAD Rp 259 miliar.

''Kami prihatin kalau rumah sakit ditekan dan diperas terus untuk menambah pendapatan dari orang sakit yang berobat di sana. Seharusnya para direktur rumah sakit bisa menolak penetapan target PAD dari Pemkab Jember yang tidak realistis,'' kata Wakil Ketua Komisi D DPRD Jember Nur Hasan, mengomentari target PAD 2107 tadi. Salah satu ketidakrealistisan yang dimaksud adalah target PAD RSUD Balung yang Rp 34,73 miliar, naik dari target 2016 yang Rp 32 miliar, yang tahun lalu hanya bisa tercapai 60 persen. ''Semestinya kalau tahun lalu tidak mencapai target, ya diturunkan saja targetnya. Kenapa harus malu. Kondisi RS Balung pada 2017 juga masih amburadul,'' bilang Nur Hasan.

Juru bicara Fraksi Partai Gerakan Indonesia Raya, Ardi Pujo Prabowo, punya pendapat yang lebih menohok. Katanya, '''Dengan menambah target PAD untuk tiga Rumah Sakit itu pada 2017, sama halnya dengan menginginkan rakyat terus-menerus sakit.''

Kesimpulannya, meski sekarang Jember dipimpin seorang dokter, dr Hj Faida MRR (gelar Master Manajemen Rumah Sakit dari Universitas Gajah Mada), orang sakit tetap menjadi penyumbang PAD terbesar. Salahkah? Benarkah orang sakit diperah? Pertanyaan ini boleh dibilang sulit dijawab. Ketika menjadi ketua DPR-RI pada 2010, Marzuki Alie sudah pernah berteriak agar 'rumah sakit jangan jadi sumber PAD'. Asosiasi Rumah Sakit Daerah (Asarda) juga pernah usul agar rumah sakit milik pemerintah daerah dijadikan BLUD (badan layanan umum daerah) agar tak jadi mesin uang penghasil PAD. Tapi seperti terjadi di Jember, meski sudah berstatus BLUD, rumah sakit pelat merah tetap setor PAD.

Kalau mau dipikirkan secara gampangan, bisnis orang sakit atau bisnis kesehatan memang tak ada matinya. Rasanya setiap minggu atau setiap bulan selalu muncul rumah sakit dan klinik kesehatan baru, mulai dari kelas lokal, nasional, hingga ke rumah sakit asal negara tetangga. Masalahnya, seperti semua orang tahu, sekarang ini sudah berkembang jargon 'orang miskin dilarang sakit'. Maknanya, golongan miskin makin sulit menjangkau layanan rumah sakit. Sakit itu mahal. Sampai-sampai, meski sekarang sudah ada BPJS Kesehatan, Presiden Jokowi masih harus sibuk membagi-bagikan Kartu Indonesia Sehat.

Bupati Faida kelihatannya sadar akan sulitnya orang miskin masuk rumah sakit. Karena itu, lewat Peraturan Bupati No 1 tahun 2017, ia menetapkan: hanya dengan bermodalkan surat pernyataan miskin (SPM), pasien miskin non-BPJS bisa dirawat gratis di rumah sakit swasta. Pemkab Jember akan menanggung biayanya. Tidak di semua RS swasta, tapi di RS yang sudah bermitra dengan Pemkab Jember. Dan saat ini, baru satu RS yang jadi mitra: RS Bina Sehat (RSBS). Rumah sakit swasta ini tak lain rumah sakit milik ibu bupati sendiri, dan yang ia dulu jadi direktur utamanya, sebelum jadi bupati. Kok rumah sakit milik sendiri?

Bupati Faida tentu punya alasan dan tak khawatir disebut berkolusi. Alasannya, RSBS --yang sekarang kerap diplesetkan sebagai Rumah Sakit milik Bupati Sendiri-- sudah punya track record dalam menangani pasien miskin. RSBS dulu menjadi satu-satunya rumah sakit swasta di Jember yang mau menerima pasien BPJS, di tahun pertama program universal coverage BPJS diberlakukan pemerintah. Rumah sakit swasta lain memilih bersikap wait and see: ingin melihat lebih dulu apakah MoU RSBS dengan BPJS Kesehatan bakal membuat RSBS mengalami kesulitan keuangan atau tidak. Terbukti, RSBS berhasil survive.

Peta & Citra Satelit

Kantor Bupati Jember

Pemerintah Kabupaten Jember
Jl. Jenderal Sudirman No. 1
Kelurahan Jemberlor
Kecamatan Patrang
Kabupaten Jember
Jawa Timur

Tel: 0331-428824
Fax: 0331-428824

Website: www.jemberkab.go.id

Kecamatan di Jember

Kecamatan di Kabupaten Jember:
1. Kencong
2. Gumukmas
3. Puger
4. Wuluhan
5. Ambulu
6. Tempurejo
7. Silo
8. Mayang
9. Mumbulsari
10. Jenggawah
11. Ajung
12. Rambipuji
13. Balung
14. Umbulsari
15. Semboro
16. Jombang
17. Sumberbaru
18. Tanggul
19. Bangsalsari
20. Panti
21. Sukorambi
22. Arjasa
23. Pakusari
24. Kalisat
25. Ledokombo
26. Sumberjambe
27. Sukowono
28. Jelbuk
29. Kaliwates
30. Sumbersari
31. Patrang