Satu Indonesia, Berjuta-juta Places-nya
//EMPTY DIV!!
//EMPTY DIV!!

Pemerintah Kabupaten Berau

Selasa, 30 Juni 2015 15:29:19
photo: rusman / panoramio

Jawa Pos, konglomerasi media milik Dahlan Iskan, punya banyak media di segenap penjuru nusantara. Di Kabupaten Berau, salah satu anggota keluarga besar Jawa Pos adalah Berau Post. Dalam urusan keredaksian, sang induk dan sang anak ternyata tak selalu seiring-sejalan. Walhasil, ketika Jawa Pos asyik bercerita soal prestasi gemilang Bupati Berau Makmur AHPK membangun PLTU Lati 3x7 MW yang bisa membuat Berau 'Tetap Terang saat Kaltim Byarpet', Berau Post malah berkisah tentang hal sebaliknya: listrik masih byarpet terus. Bahkan, dikisahkan juga kalau kampung Sungai Buntu, di Kelurahan Sambaliung, yang hanya berjarak 3 kilometer dari ibukota Tanjung Redeb, sampai sekarang masih belum teraliri listrik.

Jawa Pos memaparkan kisah sukses Bupati Makmur AHPK lewat tulisan berjudul Inovasi Makmur HAPK, Bupati Berau, Kalimantan Timur: Tetap Terang saat Kaltim Byarpet, 13 Mei 2015. Tulisan ini merupakan bagian dari serial 'Indonesia di Tangan Bupati-Wali Kota' yang secara rutin diterbitkan Jawa Pos. Adapun Berau Post mengkritisi kelistrikan di Berau lewat kolom yang ditulis Azis Sakti, manager Komunikasi Bisnis Berau Post, bertajuk 'PLN Suka PHP', 10 Juni 2015.

So, siapa yang benar? Tulisan mana yang layak 'didengar'? Rasanya tak terlalu sulit untuk memilih mana yang layak 'didengar'. Siapa pun tahu listrik di Indonesia, di mana pun, dengan kadar yang berbeda-beda, ya pasti 'byarpet'. Adalah hal yang 'lebay' kalau mengklaim ada daerah di Indonesia yang bebas byarpet. Tapi kalau ditanya soal tulisan mana yang layak 'dibaca', tentunya keduanya patut dibaca. Sama-sama informatif. Meski begitu, Jawa Pos boleh diberi nilai plus karena serial 'Indonesia di Tangan Bupati-Walikota' itu pada intinya ingin memaparkan berbagai 'inovasi' yang dijalankan pemerintah daerah: terlepas dari soal hasil akhirnya.

Inovasi di bidang kelistrikan yang telah dilaksanakan oleh bupati Berau tak lain adalah pembangunan PLTU Lati yang kini berkapasitas 3x7 MegaWatt (MW). PLTU Lati ini bukan barang baru. Dipersiapkan sejak 2002, Unit I PLTU Lati yang berkapasitas 1x7 MW mulai beroperasi pada 28 Februari 2004. Unit kedua, dengan kapasitas sama, mulai menyalurkan listrik atau menjual listrik ke PLN pada 25 Desember 2004. Dikenal dalam bahasa PLN sebagai PLTU Skala Kecil, PLTU Lati dikelola oleh PT Indo Pusaka Berau, perusahaan patungan antara Pemkab Berau (49 persen saham), PT Indonesia Power (anak perusahaan PT PLN, 47 persen), dan PT Pusaka Jaya Baru (anak perusahaan Shandong Machinery I & E Group Co, penyedia mesin pembangkit, 4 persen).

Beberapa tahun setelah beroperasi, PLTU Lati berniat membangun Unit III dan Unit IV. Namun pada Januari 2007 dikabarkan kalau rencana itu pasti tertunda karena PLN tak bersedia membeli listrik untuk jangka panjang seperti diinginkan investor baru Unit III dan IV. PLN maunya seperti biasa, membeli listrik secara tahunan. Tapi akhirnya, 10 tahun setelah beroperasi, PLTU Lati akhirnya bisa juga menghadirkan Unit III pada Desember 2014, mundur dari jadwal semula pada Juli 2014. Peletakan baru pertama pembangun turbin Unit III dilakukan langsung Dirut PT PLN Nur Pamudji pada 9 Maret 2013. Walhasil kapasitas PLTU Lati kini menjadi 3x7 MW.

PLTU Lati merupakan pembangkit listrik berbahan bahan bakar batubara. Batubaranya disuplai oleh PT Berau Coal Energy Tbk, salah satu perusahaan tambang batubara yang beoperasi di Kabupaten Berau. Perusahaan ini sepakat mensuplai batubara kalori rendah hingga tahun 2025, sesuai masa berlaku lisensi tambangnya. Batubara itu diberikan secara gratis kepada PT Indo Pusaka Berau. Bisa gratis karena jenis batubara yang dipakai, yang dikeduk dari kawasan Lati, sebenarnya tergolong sebagai waste.

Meski kapasitas resminya 3x7 MW (atau 21 MW), menurut PLN Area Berau, riilnya PLTU Lati hanya menghasilkan listrik sebesar 17 MW. Adapun beban puncak listrik di sana mencapai 21 hingga 22 megawatt. Kekurangannya selama ini ditutup lewat listrik yang dihasil genset yang disewa PLN dari PT Kaltimex Energy sebesar 5,6 MW. Namun kemitraan ini, terhitung mulai 4 Juni 2015, pukul 24.00, dihentikan. Dan sudah sejak Mei 2015 PLN Berau mengumumkan Berau bakal mengalami krisis listrik dan pemadaman bergilir pun dipastikan terjadi. Pemadaman bergilir terbaru ini bakal mengulang kisah pemadaman bergilir yang biasa terjadi setiap kali PLTU Lati melakukan perbaikan boiler.

So, sampai kapan krisis listrik itu bakal berakhir? PLN sebenarnya sudah punya solusinya. Saat ini, PLN sedang membangun sendiri PLTU Teluk Bayur yang berkapasitas 2x7 MW. Ketika ditinjau pembangunannya oleh bupati Berau pada April 2014, proyek PLTU ini sudah mencapai 65 persen dan akan beroperasi pada akhir tahun. Tapi ternyata, target itu tak kesampaian. Maka, pada April 2015, Distamben Berau pun meninjau proyek itu. Penanggung jawab proyek bilang tahapan proyek sudah mencapai 71 persen. Juga diyakini bahwa PLTU Teluk Bayur Unit I bakal bisa beroperasi pada Oktober 2015. Sedangkan Unit II akan berjalan pada Desembber 2015.

Jadi, masih byarpet 'kan?

Peta & Citra Satelit

Kantor Bupati Berau

Pemerintah Kabupaten Berau
Jl. APT Pranoto No.1
Tanjung Redeb - 77311
Kabupaten Berau
Kalimantan Timur

Tel: 0554-21777
Fax: 0554-21068

Website: www.beraukab.go.id


Link:
PT Indo Pusaka Berau - www.ipb.co.id

Kecamatan di Berau

Kabupaten Berau terbentuk lewat UU Darurat No 3 tahun 1953 tentang Pembentukan (Resmi) Daerah Otonom Kabupaten/Daerah Istimewa Tingkat Kabupaten dan Kota Besar dalam Lingkungan Provinsi Kalimatan. Ketika itu, bersama Bulungan, Berau menyandang status sebagai Daerah Istimewa. Status Daerah Istimewa ini berakhir setelah, lewat UU No 27 tahun 1959, Berau --dan juga Bulungan-- berganti label menjadi Kabupaten. Adapun yang menjadi ibukotanya, dan juga sampai sekarang, tetap Tanjung Redeb.

Kecamatan di Kabupaten Berau:
  1. Kelay
  2. Talisayan
  3. Tabalar
  4. Biduk-Biduk
  5. Pulau Derawan
  6. Maratua
  7. Sambaliung
  8. Tanjung Redeb
  9. Gunung Tabur
  10. Segah
  11. Teluk Bayur
  12. Batu Putih
  13. Biatan