Indonesia meets Google Places and Facebook Places
Candi Ratu Boko
Jumat, 01 Oktober 2010 06:58:31
photo: heripurwata/indoplaces
Dinasti Syailendra memang rajin membangun. Setelah sejumlah candi di dataran, mereka mengincar bukit Boko yang letaknya tiga kilometer dari gugusan candi Prambanan, Sewu, dan Plaosan, yakni kompleks Ratu Boko

Mencakup dua desa, Dawung dan Sambirejo, kecamatan Prambanan, kompleks Ratu Boko bertengger persis di puncak bukit, 196 meter dpl. Dari sini pemandangan ke arah gunung Merapi pun praktis tanpa halangan.

Ahli arkeologi yakin kompleks Ratu Boko dibangun oleh Rakai Panangkaran dari dinasti Syailendra pada 760-780 masehi. Prasasti bertarikh 792 masehi menyebutkan Panangkaran menamai bangunan itu sebagai Abhayagiri Wihara yang berarti wihara Budha yang damai.

Namun penerusnya, Rakai Walaing Pu Kumbhayoni yang berkuasa pada 856 - 863 masehi mengubah Abhayagiri Wihara sebagai kraton Walaing. Hal ini ditegaskan dalam inskripsi Mandyasih.






Pemandian, taman kerajaan, istana, biara, atau, candi?. Itu lah misteri yang ditawarkan kompleks Ratu Boko. Hingga saat ini para ahli masih kesulitan menentukan fungsi tinggalan dari abad ke-9 masehi itu.

Sisa bangunan yang ada berupa gapura, pemandian dengan sejumlah kolam, ruang pertemuan (pendopo), keputren, dan paseban memang mengacu pada fungsi sebuah hunian. Namun tidak mudah membuat simpulan dari tinggalan tersebut. Pendapat yang paling umum dianut mengenai fungsi Ratu Boko adalah sebagai bangunan sekuler dari pada sakral-keagamaan.