Indonesia meets Google Places and Facebook Places
Monumen Nyi Ageng Serang, Wates, Kulon Progo
Minggu, 30 Maret 2014 14:45:56
photo: cholis/indoplaces
Ki Hajar Dewantoro, kita semua pasti mengenalnya. Kenal neneknya? Meski berstatus Pahlawan Nasional, banyak orang mengakui kalau nenek Bapak Pendidikan Indonesia itu tidak sepopuler 'Ibu Kita Kartini'. Sang nenek tak lain adalah Nyi Ageng Serang. Di jalan nasional lintas selatan Jawa, di Kota Wates, ibukota Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta, pahlawan wanita ini ditampilkan trengginas di atas kuda, seraya memegang tombak. Kaki kanan kudanya terangkat gagah, mengingatkan kita pada kuda jingkrak tunggangan Pangeran Diponegoro. Ada hubungannya?

Nyi Ageng Serang memang ada hubungannya dengan Pangeran Diponegoro. Dia adalah salah satu panglima pada perang di tanah Jawa yang dikenal sebagai Perang Diponegoro (1825-1830). Bernama asli Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edhi, dia putri Pangeran Natapraja, yang kala itu menjadi penguasa Mataram di daerah Serang, Purwodadi, wilayah perbatasan Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Jiwa kemiliterannya diwarisi dari sang ayah. Sepeninggal sang ayah, ia didapuk untuk memimpin Serang dan lantas menyandang sebutan Nyi Ageng Serang.

Ketika Perang Diponegoro pecah, Nyi Ageng Serang bukan lagi seorang pemudi yang cantik. Juga, dia sudah tak gagah mengendarai kuda lagi. Usianya ketika itu sudah 73 tahun. Ia harus memimpin pasukannya dengan digotong tandu, seperti yang kemudian juga dilakukan Jenderal Soedirman atau Cut Nyak Dhien. Dan akhirnya, sebelum Perang Diponegero berakhir, perempuan yang masih keturuan Sunan Kalijaga ini harus berpulang. Nyi Ageng Serang wafat pada 1828 dan dimakam di Kali Bawang, Kulon Progo.

Untuk mengenang sang pahlawan wanita, monumen Nyi Ageng Serang pun dibangun di Simpang Lima Karangnongko, di jalan lintas Puworejo-Wates-Yogyakarta. Entah kapan dibangunnya. Yang jelas, Mei 2013 lalu, Pemkab Kulonprogo sudah mengucurkan Rp 700 juta untuk menggeser monumen itu ke tengah jalan. Tapak monumen yang sekarang berbentuk segitiga akan diperbesar menjadi lingkaran dan akan menjadi bundaran di Simpang Lima Karangnongko itu. Juga, bundaran akan dilengkapi taman dan air mancur. Ini berarti, lahannya diperluas. Untuk itu, Pemkab sudah mengucurkan dana pembebasan lahan sebesar Rp 953 juta.
Monumen Nyi Ageng Serang
Simpang Lima Karangnongko
Jalan Khudori
(Jalan lintas Purworejo-Wates-Yogya)
Kecamatan Wates
Kabupaten Kulon Progo
DI Yogyakarta
Niat Pemkab Kulon Progo membuat bundaran Nyi Ageng Serang sampai sekarang belum terlaksana. Terhambat izin. Karena jalan yang ingin di-bundaran-kan itu jalan nasional, jalan antar-kota antar-provinsi, Pemkab harus mintar restu Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (B2PJN). Karena tak kunjung keluar, pada November 2013, Pemkab Kulonprogo mengumumkan penundaan proyek. Rencananya, Februari atau Maret 2014 lelang pengadaan bisa dilakukan, lalu proyek langsung dikerjakan dan bisa rampung bulan Agustus atau September 2014.

Alasan menggeser monumen itu ke tengah jalan sebenarnya rasional saja. Sekarang ini, kalau Anda melintasi Simpang Lima Karangnongko, sosok Nyai Ageng Serang cenderung tenggelam. Dari arah Purworejo (dari arah barat), pengguna kendaraan akan lebih fokus pada sosok dua bangunan besar di belakangnya atau disebelahnya, yang berada di sisi kanan jalan. Yakni Masjid Masyifa, dan --yang lebih besar lagi-- kantor Cabang Bank BRI Wates. Walhasil, kalau tak serius mengamati, monumen itu pasti terabaikan. Atau seperti dibilang Pemkab, 'Wates-nya yang terabaikan'. Begitulah: orang memang cenderung wuzzz-wuzzz saja di jalur Wates. Tapi kalau nanti bundaran benar-benar hadir, rasanya jalur lintas selatan bakal punya titik kemacetan baru.

Dalam rancangannya, bundaran Karangnongko itu akan berdiamater 7,5 meter. Sisi dalam tapak patung berdiameter 6 meter. Patung Nyi Ageng Serang akan diputar menjadi tepat menghadap utara, dan tinggi totalnya dinaikkan menjadi 12 meter dari sekarang 6 meter. Pos Polisi yang berada di depan masjid, di selatan jalan, akan digusur atau digeser. Begitu juga deretan toko yang ada di situ, yang biasa disebut Kios Kompleks Masjid Masyifa, akan digeser. Untuk menggeser mereka, Pemkab tak perlu ganti rugi lahan karena mereka berada di tanah negara.