Indonesia meets Google Places and Facebook Places
BPR Nusumma Tempel, Sleman, Yogyakarta
Selasa, 12 Mei 2015 13:55:15
photo: didik diva / panoramio
Mendiang KH Abdurrahman Wahid punya cita-cita manis untuk memajukan ekonomi warga Nahdliyin: mendirikan 2.000 bank perkreditan rakyat (BPR) berlabel BPR Nusumma di seantero nusantara. Sayang, mitra kerjasamanya keburu pailit dan cita-cita itu belum sempat maujud ketika Gus Dur berpulang. Sempat ada 15 bank, 3 di antaranya terpaksa dilikuidasi di awal 2000-an. Sekarang sudah berkurang satu lagi karena pada 2012 lalu, BPR Nusumma Kedungwaru, di Kabupaten Tulungagung, dibeli seharga Rp 1,99 miliar oleh BPR Hambangun Artha Selaras, BPR milik Pemerintah Kabupaten Blitar.

Aksi beli BPR Nusumma Kedungwaru itu cukup unik karena merupakan akuisisi lintas kabupaten. Dan sampai sekarang, BPR Hambangun Artha Selaras tetap berkantor pusat di Tulungagung. Sedangkan di Blitar hanya dibukakan kantor cabangnya. Aksi beli itu tertuang dalam Perda Kabupaten Blitar No 3 tahun 2012. Total dana yang dikucurkan dalam rangka akuisisi itu mencapai RP 5,55 miliar. Selain untuk membayar pembelian, dana lainnya dipakai untuk modal ditempatkan sebesar Rp 400 juta dan Rp 3,15 miliar untuk menambah modal disetor. Perda itu juga menyebutkan, tahun sebelumnya Pemkab Blitar sudah menempatkan modal disetor di PT BPR Hambangun Artha Selaras sebesar Rp 1,5 miliar.

Akuisisi juga berulang kali terjadi di internal BPR Nusumma, atau tepatnya di PT Nusumma Utama, induk perusahaan seluruh BPR Nusumma. Sang induk dibentuk pada 7 Juli 1990 oleh Gus Dur dan bos Bank Summa Edward Soeryadjaya. Kongkritnya, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, lewat PT Duta Dunia Perintis, memiliki 60 persen saham, sedangkan PT Bank Summa memegang 40 persen saham. Ketika Bank Summa tumbang pada 1991, PT Jawa Pos masuk dan jadi pemegang 52 persen saham. Tahun 1998, Jawa Pos melepas sahamnya kepada PT Hawari Sekawan. Di era ini, karena tak menambah modal, saham PT Duta Dunia Perintis terdilusi menjadi 25 persen. Hari Sekawan itu perusahaan apa? Perusahaan ini tak lain perusahaan patungan antara Gus Dur (40 persen), Mustofa Zuhad Mughni (30 persen)--sekarang Dirut PT Nusumma Utama--, dan Edward Surjadjaya (30 persen). Belakangan perusahaan ini menyerahkan seluruh sahamnya kepada PT Duta Dunia Perintis. Dengan kata lain, PBNU sekarang jadi pemilik penuh BPR Nusumma.

Kinerja BPR Nusumma kabarnya tak terlalu cemerlang. Dari 15 BPR yang pernah ada, pada 2007 tinggal 12 BPR karena 3 dilikuidasi. Pada 20007 itu pula, PT Nusumma Utama memulai upaya konsolidasi dengan me-merger BPR-nya berdasarkan wilayah, setelah selama ini masing-masing BPR berbadan hukum sendiri-sendiri. 5 BPR Nusumma di Jatim akan dijadikan satu, 5 BPR Nusumma di Jateng dijadikan satu, dan 2 BPR Nusumma di Jabar juga dijadikan satu. Juga, pada 2007 itu, Direktur Utama PT Nusumma Utama Mustofa Zuhad Mughni memaparkan strategi untuk menghadirkan 80 outlet BPR Nusumma pada 2012. Adapun soal kinerjanya, per 31 Desember 2006, total aset seluruh BPR Nusumma tercatat sebesar Rp 48,35 miliar, dan total pinjaman yang diberikan mencapai Rp 33,88 miliar.

Sekarang, merger memang sudah berjalan, tapi strategi penambahan outlet masih diam di tempat. Satu bank di Jatim, BPR Nusumma Kedungwaru di Tulungagung, malah sudah pindah tangan. Berarti tinggal 11 BPR. Daftar BPR konvensional Otoritas Jasa Keuangan (OJK) edisi Januari 2015 juga bilang begitu. Yakni: PT BPR Nusumma Jawa Tengah yang berkantor pusat di Talang, Tegal, beserta 3 kantor cabang di Blora, Jepara, dan Klaten; PT BPR Nusumma Tempel yang berkantor pusat di Tempel, Sleman; PT BPR Nusumma Jatim yang berkantor pusat di Pesantren Tebu Ireng, Jombang, beserta 3 kantor cabang di Jember, Trenggalek, dan Gondanglegi (Kabupaten Malang); PT BPR Nusumma Singaparna yang berkantor pusat di Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat; dan PT BPR Nusumma Cisalak, yang berkantor pusat di Sindangsari, Subang, Jawa Barat;

Kalau mau menyimak data lama, BPR Nusumma yang sudah almarhum adalah: PT BPR Nusumma Jatiroto, Lumajang; PT BPR Nusumma Sawangan, Depok (Jawa Barat, dibubarkan 21 Juli 2014, kata Sisminbakum); dan PT BPR Nusumma Kedungwuni, Pekalongan (bubar 9 Januari 2004, setelah dibekukan Bank Indonesia di tahun sebelumnya). Di BNRI Sisminbakum sendiri, masih ada nama-nama BPR Nusumma lain yang sudah dibuatkan akte pendiriannya.

Sebagai satu-satu outlet BPR Nusumma di Daerah Istimewa Yogyakarta, baguskah kinerja PT BPR Nusumma Temmpel? Tak banyak cerita soal kinerjanya. Tapi ada juga data yang agak sedikit sudah lama, yakni skripsi Hafid Ahmad di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, yang bertajuk ''Tingkat Konsentrasi Pasar Bank BPR di DI Yogyakarta pada tahun 20062009''. Data skripsinya tentang 27 BPR di Kabupaten Sleman menunjukan, dalam urusan kredit yang disalurkan, BPR Nusumma Tempel berada di urutan bawah: 2006 urutan ke-23 (Rp 1,75 miliar), 2007 urutan ke-26 (Rp 1,47 miliar), 2008 urutan ke-26 (Rp 2,14 miliar), dan 2009 urutan ke-26 (Rp 2,59 miliar).

Untuk urusan menghimpun deposito, pada 2006 BPR Nusumma Tempel berada di urutan ke-22 (Rp 728,7 juta), 2007 urutan ke-23 (Rp 838 juta), 2008 urutan ke-26 (Rp 586 juta); dan pada 2009 menempati urutan terbawah, ke-27 (Rp 638 juta). Adapun dalam hal menarik dana tabungan, BPR Nusumma Tempel terbilang lumayan oke. Pada 2006 dia menempati urutan ke-16 (Rp 1,3 miliar), 2007 urutan ke-15 (Rp 1,54 miliar), 2008 urutan ke-14 (Rp 2,13 miliar), dan tahun 2009 tetap di urutan ke-14 (Rp 2,2 miliar).
PT BPR Nusumma Tempel
Jl Magelang Km 18
Desa Lumbungrejo
Kecamatan Tempel
Kabupaten Sleman - 55552
DI Yogyakarta

Tel: 0274-869291


Link:
Nadhlatul Ulama - www.nu.or.id