Satu Indonesia, Berjuta-juta Places-nya
//EMPTY DIV!!
//EMPTY DIV!!

Museum Jenderal Soedirman, Purbalingga

Minggu, 30 Maret 2014 12:59:41
photo: jobojero/indoplaces

Jenderal Soedirman merupakan sosok kebanggaan warga eks-Karesiden Banyumas, khususnya warga Kabupaten Purbalingga. Karena itu wajar kalau Universitas Jenderal Soedirman pun adanya di Purwokerto, yang juga masuk wilayah Banyumas. Kebanggaan itu tentunya tak lepas dari riwayat Panglima TNI tempo dulu itu, yang memang lahir di Purbalingga. Tepatnya, beliau lahir pada 24 Januari 1916 di daerah yang sekarang dikenal sebagai Dukuh Rembang, Desa Bantar Barang, Kecamatan Rembang. Rumah kelahirannya itu sekarang dijadikan Museum Jenderal Soedirman.

Dibangun pada 1976 dan diresmikan setahun kemudian, Museum Soedirman tampil serius. Area museum luas, lahan parkir luas, dan terdapat lapangan besar untuk umum di bagian depannya. Lapangan ini biasa digunakan untuk berkemah oleh pramuka dan siswa berbagai sekolah di Purbalingga. Hal itu mencerminkan pula sosok Soedirman yang sebelum menjadi tentara dikenal sebagai pegiat pramuka di Hizbul Wathon, organisasi kepanduan putra Muhammadiyah. Dan mungkin karena itu pula, sosok Soedirman yang biasa dikenali dengan tubuh jangkung, berjubah panjang, dan berblangkon, tidak jadi figur utama patung yang ada di halaman museum. Yang hadir di sana dalah patung Soedirman yang berseragam pandu.

Kiprah kepanduan Soedirman tidak ditekuninya di Purbalingga, melainkan di Cilacap, yang juga masuk wilayah karesidenan berbahasa 'ngapak'. Keluarganya pindah ke Cilacap selagi dia masih SD. Selepas SMA di Cilacap, ia masuk sekolah guru Muhammadiyah di Solo, tapi tak selesai karena alasan biaya. Pulang ke Cilacap pada 1936, ia mengajar di SD Muhammadiyah, dan kemudian jadi kepala sekolahnya, sembari mengajar di SMA Muhammadiyah. Pada masa-masa itulah Soedirman makin sibuk jadi pramuka dan akhirnya menjadi ketua Hizbul Wathon Cilacap. Pada 1937, Soedirman menjadi Ketua Pemuda Muhammadiyah Banyumas.

Lokasi Museum di Purbalingga ini pun termasuk lingkungan Muhammadiyah. Deretan bangunan yang ada di seberang utara lapangan adalah MIS (Madrasalah Ibitidaiyah Swasta) Muhammadiyah Bojongsana, alias sekolah dasar Muhammadiyah. Kalau melihat Google Maps versi peta, Google sudah menandainya.

Peta & Citra Satelit

Monumen Soedirman

Museum Jenderal Soedirman
Dukuh Rembang
Desa Bantarbarang
Kecamatan Rembang
Kabupaten Purbalingga
Jawa Tengah

Museum Bintang Empat

Museum Jenderal Soedirman diresmikan Jenderal Soerono, wakil Panglima ABRI, pada 21 Maret 1977. Selain disambut monumen pramuka Soedirman, pengunjug bisa menyaksikan dinding relief sepanjang 10 meter yang berisi lukisan dan ukiran perjalanan hidup dan karir Pak Dirman, panggilan beliau dulu. Di dalam museum, bisa dijumpai kamar tempat Soedirman dulu dilahirkan. Juga masih ada ayunan bayi dari kayu yang dulu dipakainya. Di bagian lain museum, ditampilkan pula tandu yang dulu biasa dipakai menggotong Soedirman semasa perang gerilya (Agresi I dan II), serta kereta kudanya.

Soedirman Bertemu Soekarno

Penjajah Jepang mendirikan pasukan PETA (Pembela Tanah Air) pada 1943. Soedirman masuk setahun kemudian, ikut pelatihan di Bogor, dan akhirnya ditempatkan di Kroya, yang sekarang jadi salah satu kecamatan di Cilacap. Sukses memimpin pasukannya, Soedirman malah diasingkan ke Bogor. Ketika Indonesia merdeka, Soedirman dan pasukannya lari ke Jakarta dan bertemu Soekarno. Ia diminta memimpin pasukan di Jakarta, tapi menolak, dan memilih untuk memimpin pasukan lamanya di Kroya.

Menjadi Jenderal di Usia 29

Pada 5 Oktober 1945, Soekarno membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Soeprijadi diangkat sebagai Panglima Besar TKR, namun ia tidak muncul (dan sampai sekarang tidak diketahui keberadaannya). Walhasil, kepemimpinan untuk sementara diserahkan kepada Letjen Oerip Soemohardjo. Pada Nomember 1945, TKR menggelar pertemuan pertama. Lewat pemungutan suara, Kolonel Soedirman --Panglima Divisi V wilayah Karesiden Kedu dan Banyumas-- terpilih sebagai Panglima Besar TKR. Pangkatnya pun dinaikkan. Ia menjadi jenderal di usia 29 tahun.

Palagan Ambarawa

Pak Guru menjadi jenderal? Lewat pemungutan suara, Soedirman memang terpilih sebagai Panglima Besar TKR. Tapi kabarnya, ketika itu, bisik-bisik soal kelayakan seorang 'pak guru menjadi jenderal' banyak terdengar. Walhasil, Soekarno pun agak lambat untuk mengukuhkan kejenderalaan Soedirman. Tapi itu tak lama. Lewat 'Palagan Ambarawa' Soedirman membuktikan kepiawaian kemiliterannya. Palagan atau pertempuran Ambarawa ini tak lain pertempuran untuk menggusur Pasukan Sekutu dari kota yang punya banyak barak dan fasilitas militer. Mulanya, Soedirman mengerahkan pasukan Divisi V-nya yang saat itu sudah dipimpin Letkol Isdiman (Overste Isdiman). Sayang pasukannya ini kalah dan Letkol Isdiman pun tewas. Tak menerima kekalahan itu, Soedirman pun turun tangan. Selama 4 hari, mulai 12 Desember 1945, Soedirman dan Divisi V mengepung Ambarawa dan melancarkan serangan habis-habisan. Soedirman berhasil. Pasukan sekutu mundur ke Semarang.

Keberhasilan di Ambarawa membuat Soedirman semakin dipandang layak menjadi Panglima Besar TKR. Maka, pada 18 Desember 1945, Soekarno pun secara resmi melantiknya menjadi Panglima Besar TKR dan ia resmi menjadi jenderal. Adapaun pertempuran hebat di Abmarawa itu sekarang sudah diabadikan lewat Monumen Palagan Ambarawa.

Serangan Umum 1 Maret

Setelah TKR berubah menjadi BKR dan kemudian berubah lagi menjadi TNI, dan ikut menyaksikan kesuksesan Serangan Umum 1 Maret yang dipimpin Letkol Soeharto di Yogya, Soedirman wafat pada 29 Januari 1950 karena sakit di rumah peristirahatannya di Magelang. Jenazahnya dibawa ke Yogyakarta, yang semasa Agresi Belanda ke-2 itu menjadi ibukota RI. Soedirman dimakamkan di tempat yang sekarang dikenal sebagai Taman Makam Pahlawan Semaki. Rumah dinasnya di Jalan Bintaran Wetan No. 3, Yogyakarta, sekarang dijadikan Museum Sasmita Panglima Besar Jenderal Sudirman.

Soedirman dalam Buaian

Soedirman berasal dari keluarga tak makmur. Lho, tapi kok punya tanah sebegitu luas yang kemudian jadi lokasi Museum Soedirman? Kedua orang tuanya memang tak kaya raya. Dan karena itulah sejak kecil Soedirman diasuh oleh pamannya, Raden Cokrosunaryo, yang kala itu menjadi seorang camat. Soedirman sendiri --yang juga diberi gelar Raden-- baru diberitahu tentang hal ini ketika sudah berusia 18 tahun. Walhasil, di rumah besar Pak Camat-lah Soedirman menjalani masa kecilnya. Ayunan yang dulu dipakai untuk membuai Soedirman cilik masih tersimpan baik di Museum Soedirman.


Ayunan Soedirman

Ayah kandung Soedirman bernama Karsid Kartawiraji. Ibunya bernama Siyem. Saat melahirkan Soedirman, mereka tinggal di rumah Tarsem, kakak sang ibu. Sang kakak inilah yang bersuamikan Pak Camat Raden Cokrosunaryo. Ketika keluarga ini pindah ke Cilacap, kedua orang tua Soedirman pun ikut. Karsid, ayah kandungnya, meninggal saat Soedirman berusia 6 tahun. Sang ibu, sepeninggal suaminya, memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya di Parakan Onje, Ajibarang, Banyumas. Soedirman dan adik kandungnya yang lahir di Cilacap --Muhammad Samingan-- terus ikut dan dibesarkan keluar Cokrosunaryo.