Indonesia meets Google Places and Facebook Places
Stasiun Gambir, Jakarta Pusat
Kamis, 06 Maret 2014 07:03:38
photo: jobojero/indoplaces
Tempat apa yang enak dan aman untuk terima uang panas? Transaksi korupsi? Restoran dan cafe sudah biasa. Hotel juga. Ruang kerja hakim pun sudah pernah dipakai. Stasiun? Boleh juga tuh. Dan itu memang pernah terjadi di Stasiun Gambir. KPK pernah melakukan OTT (Operasi Tangkap Tangan) di sana pada 9 April 2013. Tersangkanya, Pargono Riyadi, oknum penyidik PNS Kanwil Ditjen Pajak Jakarta Pusat, tertangkap basah beberapa saat setelah menerima uang Rp 75 juta. Uang itu merupakan sebagian dari total uang yang disepakati, Rp 100 juta, atau seperenam dari uang peras yang semula diminta: Rp 600 juta.

Bagian mana dari Stasiun Gambir yang dipakai Pargono Riyadi untuk bertransaksi? Restoran? Kafe? Seperti dibilang tadi, kafe dan restoran sudah biasa jadi tempat transaksi. Nggak aman. Jadi, dimana? Kalau suka nonton film Hollywood, anda pasti tahu. Transaki dilakukan sambil lewat: sembari berjalan kaki di salah satu lorong Stasiun Gambir. Lawan mainnya menyerahkan kantong kresek saat berpapasan di tengah keramaian stasiun. Kedua pelaku akhirnya ditangkap lewat OTT tadi. Dan November 2013 lalu, Hakim Pengadilan Tipikor Jakarta menjatuhkan vonis penjara 4 tahun 6 bulan bagi Pargono Riyadi.
Stasiun Gambir
Jl. Medan Merdeka Timur No. 1
Kecamatan Gambirr
Jakarta Pusat

Tel: 021-3862361, 3862362



Link:
PT Kereta Api Indonesia - www.kereta-api.co.id
PT KAI Commuter Jabodetabek - www.krl.co.id
Kalau koruptor enggan bertransaksi di kafe stasiun, bukan berarti area komersial di Stasiun Gambir lantas sepi pengunjung. Sebagai tempat berkumpul dan hilir mudiknya banyak orang, Stasiun Gambir terbilang laris jadi arena dagang. Restoran Hoka-hoka Bento sudah lama buka di sana. Bahkan, Desember 2013, restoran ini sempat terbakar, membuat stasiun ditutup sementara, dan terpaksa keberangkatan sejumlah kereta mengalami penundaan.

Peritel besar lain yang sudah ikut nimbrung di Gambir adalah Indomaret. Tapi bukan minimarketnya, melainkan Indomaret Point, yang berupa convenience store: minimarket kecil, plus pojok makanan siap saji. Dengan kata lain mirip convenience store-nya Circle K, tapi tak sebesar convenience store-nya 7-Eleven. Selain hadir di Stasiun Gambir sejak 2011, Indomaret Point juga ada di Stasiun Senen.
7-Eleven agaknya tak mau kalah dari Indomaret. Untuk menyaingi Indomaret Point, atau Indomaret versi kecil, sejak Januari 2013, 7-Eleven menghadirkan '7-Eleven mini' atau versi kecil di Stasiun Gambir. Perbedaan 7-Elven sungguhan dan yang mini tak terlalu besar dari sisi nvestasi. Kalau 7-Elevent versi biasa, gerai 'stand alone' atau berdiri sendiri, investasinya sekitar Rp 3 miliar. Kalau 7 Eleven versi mini, gerainya tidak berdiri sendiri, melainkan menempati areal komersial suatu pusat keramaian. Investasinya hanya Rp 2,25 miliar sampai Rp 2,4 miliar.

Pada bulan yang sama, Januari 2013, Starbucks Coffee ikut memadati stasiun Gambir. Sebagai gerai Starbucks yang ke-142, warung kopi modern ini buka dari pukul 5 pagi sampai jam 8 malam. Asyiknya, di stasiun yang penuh papan pengumuman dilarang merokok ini, Starbuck menyediakan 'smoking area'.
Tertarik berbisnis di Gambir? Silakan saja. Pintu kelihatannya masih terbuka lebar. Berapa tarifnya? Sayang, PT Kereta Api Indonesia dan stasiun Gambir masih belum mau buka-bukan soal tarif sewa. Website Asset PT KAI belum pasang harga. Meski begitu, para bos KAI sedikit banyak pernah ngomong ke media. CEO PT KAI Ignasius Jonan, misalnya, pernah bilang kalau sewa area komersial di Stasiun Gambir sewanya Rp 400 ribu per meter persegi, per bulan. Itu untuk usaha atau gerai ritel, yang mungkin perlu menyewa beberapa puluh meter persegi. Tapi kalau untuk usaha yang benar-benar memanfaatkan lahan satu meter persegi, atau petak kecil, yakni ATM (anjungan tunai mandiri), sewanya Rp 50 juta per tahun.

Mau sewa lahan parkir, atau jadi pengelolanya? Boleh juga. Direktur Komersial PT KAI Sulistyo Wimbo Hardjito tahun lalu bilang, tarif sewa lahan parkir Stasiun Gambir sudah naik dari Rp 1,5 miliar per tahun menjadi Rp 3 miliar per tahun.

Terasa mahal tarifnya? Mungkin. Kalau modal cekak, ikut saja jualan tiket kereta api. Kata Sulistyo, PT KAI amat senang dengan kesuksesan jualan tiket online lewat minimarket: Indomaret, Alfamart, dll. Dalam sehari, minimarket bisa menjual 3.000-4.000 tiket per hari. Bandingkan dengan, misalnya, target yang selama ini ditetapkan bagi agen tiket, yang cuma 50 tiket. Per hari? Bukan. Per bulan.

Untuk ikutan jualan tiket kereta api, tentu tak perlu punya minimarket terlebih dahulu. Sekarang kan sudah banyak usaha PPOB: jual pulsa elektronik, jual tiket, bayar listrik, dll.