Satu Indonesia, Berjuta-juta Places-nya
//EMPTY DIV!!
//EMPTY DIV!!

Pemerintah Kabupaten Pidie

Jumat, 05 Februari 2016 18:41:59
photo: agam sigli / youtube

Akademi Militer Masabah Al-Alamiah. Sekolah militer di negeri Muammar Qadhafi ini dulu jadi tempat Bupati Pidie Tgk H Sarjani Abdullah mengasah kemiliterannya. Tentu bukan untuk memantapkan karir kemiliteran di TNI, melainkan karir ketentaraan di lingkungan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Puncaknya adalah saat ia dilantik menjadi Panglima GAM Wilayah Pidie pada 2003. Pasca perjanjian Helsinki, ia terjun ke dunia politik lewat Partai Aceh. Dan akhirnya, mulai Juli 2012, ia resmi menggantikan Mirza Ismail, bupati Pidie yang dulu juga bergerilya di era darurat militer dan sipil di Aceh.

Mirza Ismail dulu dikenal sebagai petempur GAM saat konflik dengan TNI. Ketika berlangsung 'jeda kemanusiaan' pada 2001-2002, Mirza Ismail, ikut duduk dikursi perundingan yang difasilitasi Henri Dunant Center. Ketika jeda gagal, ia kembali bergerilya. Pada 15 Agustus 2005, perjanjian damai diteken di Helsinki, Finlandia. Ia pun lantas menjadi Ketua Delegasi GAM untuk Aceh Monitoring Mission (AMM) di wilayah Pidie. Dan akhirnya, 27 Desember 2005, Tentara Neugara Aceh atau militer GAM dibubarkan. Setahun kemudian, Mirza Ismail bisa jadi pemenang pilkada Pidie yang digelar 11 Desember 2006.

H Sarjani Abdullah, dalam biografi singkat di website Pemkab Pidie, tak bercerita kapan ia sekolah militer di Akademi Militer Masabah Al-Alamiah, Tripoli, Libya. Sebelum kuliah militer, ia bersekolah di SD Negeri 02 Lueng Putu, SMP Negeri 1 Glumpang Tiga, dan SLTA yang tak disebut namanya. Adapun pelantikannya sebagai Panglima GAM Wilayah Pidie pada Januari 2003, di era jeda kemanusiaan, sudah mulai menjadi konsumsi media nasional. Pasca perjanjian Helsinki, Sarjani Abdullah menjadi Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) Wilayah Pidie (2005-2008), lalu terjun ke dunia politik, dan mulai 2008 sampai sekarang menjadi Ketua DPW Partai Aceh Kabupaten Pidie. Adapun jabatannya sebagai bupati mulai dijalani sejak 12 Juli 2012.

Sejak masa awal menjabat sebagai bupati, Sarjani Abdullah dikenal amat suka 'blusukan' ke pedalaman wilayah kabupatennya. Maklum, seperti diakui bupati berkumis tebal ini, ia jago blusukan karena pengalaman bergerilya di masa lalu. Lewat blusukan itu ia menegaskan keinginannya untuk menjadikan Pidie sebagai lumbung beras Aceh, sekaligus mensejahterakan penduduk Pidie yang 85 persennya adalah petani. Karena itu pula ia mengumandangkan motto kabinetnya: Pang Ulee Buet Ibadat, Pang Ulee Hareukat Meugoe. Artinya, kurang lebih: Sebaik-baiknya Perbuatan adalah Ibadah, Sebaik-baik Pekerjaan adalah Bertani''.

Sukseskah blusukan ala Sarjani? Kelihatannya begitu. Pidie sekarang menjadi lumbung beras nomor dua di Aceh. Belum nomer satu seperti diharapkan Sarjani Abdullah. Yang menjadi nomer satu masih Kabupaten Aceh Besar. Tapi, ada masalah lain. Menjadi produsen beras tak berarti beras produksinya mencukupi untuk dikonsumsi seluruh warga Pidie. Karena itu, pertengahan Desember 2015 lalu, Wakil Bupati Pidie M Iriawan SE, saat menggelar penanaman padi 'sistim jajar legowo' di Gampong Masjid Bungie, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie, tanpa sungkan bilang: ''Pidie lumbung beras, tapi juga darurat beras''.

Upaya memperbaiki pertanian Kabupaten Pidie terus berlangsung. Tahun lalu, saat berkunjung ke Pidie, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman berjanji mengucurkan Rp 1,5 triliun untuk membangun dan memperbaiki saluran irigasi agar bisa mengairi lahan tani seluas 10.000 hektar. Adapun luas persawahan di Pidie tahun lalu mencapai 29.391 hektar. Pak Bupati tahun lalu juga berniat membangun 78 unit irigasi baru, agar bisa mendukung upaya mencapai target produksi 210 ribu ton gabah per tahun.

Perjalanan keswasembadaan beras Pidie mungkin masih panjang. Tapi yang pasti, kerja Bupati Sarjani Abdullah di jagad pertanian sudah mendapat banyak apresiasi. Yang terbaru, 11 Januari 2016 lalu, dianugerahi gelar 'Man of The Year 2015'' oleh Harian Waspada terbitan Medan. Anugerah itu diberikan atas kontribusinya dalam membangun infrastuktur pertanian guna meningkatkan produksi gabah.

Peta & Citra Satelit

Kantor Bupati Pidie

Pemerintah Kabupaten Pidie
Jl. Raya Medan-Banda Aceh
Kota Sigli
Kabupaten Pidie
Aceh

Tel: 0653-21310
Fax: 0653-21557

Website: www.pidiekab.go.id


Pendopo Bupati Pidie
Jl. Sultan Iskandar Muda
Kota Sigli
Kabupaten Pidie
Aceh

Kecamatan di Pidie

Kecamatan di Kabupaten Pidie:
1. Kota Sigli
2. Mutiara
3. Mutiara Timur
4. Mila
5. Indra Jaya
6. Glupang Baro
7. Peukan Baro
8. Tiro / Truseb
9. Sakti
10. Titue
11. Kuemala
12. Muara Tiga
13. Delima
14. Padang Tiji
15. Grong-Grong
16. Batee
17. Glumpang Tiga
18. Pidie
19. Kembang Tanjong
20. Geumpang
21. Mane
22. Tangse

Pendopo Bupati Pidie

Bupati Sarjani Abdullah berdiam dan lebih banyak berkantor di Pendopo Kabupaten yang berada dekat alun-alun Kota Sigli, di tepian Pantai Pelangi. Kawasan sekitar Pendopo Bupati Pidie ini pun konon lebih ramai daripada kawasan kantor bupati yang berada di jalan raya lintas Sumatera (Jalan Raya Medan-Banda Aceh), sekitar 2 kilometer dari pendopo.

Kawasan Pantai Pelangi semakin meriah karena banyak restoran dan kafe bertebaran di sana, dan tertata. Obyek wisata lain di sana adalah Museum Tsunami, yang dibangun untuk mengenang korban tsunami Desember 2004.