Satu Indonesia, Berjuta Placesnya
//EMPTY DIV!!
//EMPTY DIV!!
//EMPTY DIV!!

Novotel Bukittinggi Hotel, Kota Bukittinggi

Sabtu, 20 April 2019 21:08:53
photo: novotel bukittinggi / google sv

Lahir sebagai Novotel Bukittinggi Hotel, berganti nama jadi The Hills Bukittinggi Hotel, dan akhirnya kembali lagi jadi Novotel Bukittinggi Hotel. Itulah perjalanan hotel bintang 4 yang diresmikan Menparpostel Joop Ave pada 11 November 1995, yang hanya berjarak 150 meter dari ikon Kota Bukittinggi: Jam Gadang. Namanya salin menjadi The Hills Bukittinggi pada 2009 dan balik ke nama awal pada 2016. Tujuannya untuk memulihkan citra dan profit yang menurun. Sukses? Per Oktober 2018, pendapatan hotel milik PT Grahamas Citrawisata Tbk ini mulai naik, meski masih merugi.

Sedari awal, nama perusahaan pemiliknya masih sama: PT Grahamas Citrawisata. Perusahaan ini lahir pada 1989 dan mulai membangun hotel pada 1991. Pada November 1995, Hotel Novotel Bukittinggi sudah bisa beroperasi. Pada 9 November 1995, hotel ini juga menerima sertifikat sebagai hotel bintang 4. Dua hari kemudian, Joop Ave (sekarang almarhum) datang meresmikannya, sekaligus meresmikan Balai Sidang Bung Hatta yang berada di samping kanan hotel dan dikelola Novotel Bukittingi. Di samping kanan balai sidang kebetulan sudah lama hadir Istana Bung Hatta. Dan di seberang jalan di depan istana berdiri tegak monumen Jam Gadang. Saat hotel diresmikan, status pemiliknya sudah menjadi perusahaan publik, karena per 23 Desember 1994 mencatatkan diri di Bursa Efek Surabaya (sebelum ada Bursa Efek Indonesia), alias namanya sudah menjadi PT Grahamas Citrawisata Tbk.

Cerita di atas bisa disimak pada laporan tahunan yang dipublikasikan PT Grahamas Citrawisata Tbk. Cerita versi lain tentang hotel di Sumatera Barat itu bisa ditemukan di berbagai skripsi. Salah satunya skripsi Ilmu Komunikasi yang ditulis Roberto pada 2010 di UIN Sultan Syarif Kasim, Pekanbaru, Riau. Roberto menulis kalau Hotel Novotel Bukittinggi dulu dimiliki dan didirikan pengusaha lokal bernama Yon Hendri, lewat perusahaan miliknya, PT Grahama Citrawisata, dan beroperasi mulai 11 November 1995. Sertifikat bintang 4 baru diterima hotel ini pada Februari 1996. Setelah sukses dan maju, pada 2009 hotel berlantai 4, berbintang 4, dan punya 104 kamar itu diganti namanya menjadi Hotel The Hills Bukittinggi.

Siapa Yon Hendri? Kalau menyimak laporan tahunan PT Grahamas Citrawisata Tbk yang ada, agak sulit menemukan nama Yon Hendri pada jajaran direksi, komisaris, ataupun pemilik Hotel Novotel Bukittinggi. Meski begitu, kalau mau baca-baca berita, nama Yon Hendri biasa dijumpai dengan status sebagai General Manager Hotel Novotel Bukittinggi. Apakah sang GM juga jadi pemilik hotel, tidaklah diketahui. Yang jelas, mulai 29 September 2005, saham perusahaan publik ini sudah ikut dimiliki Tophams Finance Limited dan McCloud Investment Limited, sebagai konversi utang senilai Rp 32,2 miliar. Dan akhirnya, per 31 Desember 2011, menurut laporan tahunan 2011, pemiliknya bertambah satu lagi, PT Martel (d/h PT Meta Archipelago Hotel). Perusahaan terakhir ini adalah perusahaan Medco Group, konglomerasi milik Arifin Panigoro. Sampai sekarang, di websitenya yang kelihatannya tak pernah diupdate, PT Martel masih menampilkan sosok The Hills Hotel Bukittinggi. Juga sejumlah hotelnya yang lain, termasuk Grand Hotel Preanger, Bandung.

Soal kembali memakai nama Novotel, hal ini terjadi setelah pemilik hotel meneken kesepakatan kerjasama dengan PT AAPC Indonesia --perwakilan AccorHotels di Indonesia-- pada 23 April 2013. Perjanjian ini, menurut laporan tahunan 2016, berlaku mulai 1 Juli 2013 untuk jangka waktu 10 tahun. Meski sudah diteken sejak awal 2013, baru pada Desember 2014 PT Grahamas Citrawista Tbk mengabarkannya ke media. Saat itu, atau per September 2014, perusahaan sedang merugi Rp 3,1 miliar, naik dari tahun sebelumnya yang Rp 1,79 miliar.

Nama Novotel langsung dipaka lagi? Ternyata tidak. Baru satu tahun kemudian nama itu muncul di halaman hotel. Nama Novotel Bukitinggi dipakai lagi, kata Dirut PT Grahamas Citrawisata Tbk Yusadha Adhimukti dalam pengantar Laporan Tahunan PT Grahamas Citrawisata Tbk 2016, terhitung mulai 24 Desember 2015. Walhasil, sampul laporan tahun 2016 pun sudah memakai foto hotel yang berlogo Novotel dan bertuliskan Novotel Bukittinggi Hotel & Resort. Adapun mobil Google Street View, ketika melintas di jalan depan hotel pada September 2015, masih memotret hotel itu sebagai The Hills Hotel Bukittinggi. Ketika Google Street View lewat lagi pada April 2017, hotel itu sudah dipenuhi nuansa biru biru khas Novotel.

Kabar terakhir yang bisa dijumpai, pendapatan PT Grahamas Citrawisata Tbk --yang satu-satunya usahanya yang sudah berjalan adalah Hotel Novotel Bukittinggi-- pada kuartal III tahun 2018 berhasil mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 16%: naik dari 19,7 miliar pada 2017 menjadi Rp 22,96 miliar. Hebat? Direktur Independen PT Grahamas Citrawisata Tbk Chairul Anwar tak mau sesumbar. Ia bilang kenaikan itu semata-mata karena adanya kenaikan tarif hotel. Dan meskipun pendapatan naik, tambahnya, rugi berjalan periode itu juga naik dari Rp 120 juta menjadi Rp 701 juta. Ia juga cerita kalau perusahaan tengah minta persetujuan RUPSLB agar diperbolehkan menarik pinjaman Rp 50 miliar berbunga rendah untuk keperluan refinancing. Total outstanding perusahaan saat itu mencapai Rp 14 miliar.

Peta & Citra Satelit

The Hills Bukittinggi

Novotel Bukitinggi Hotel
Jl. Laras Dt Bandaro
Kelurahan Bukit Cangang Kayu Ramang
Kecamatan Guguk Panjang
Kota Bukittingi
Sumatera Barat

Tel: 0752-35000
Fax: 0752-23800

Website: AccorHotels - Novotel Bukittinggi


Pemilik:
PT Grahamas Citrawisata Tbk
Gedung Medco
Jl. Ampera Raya No. 18 - 20
Jakarta Selatan
DKI Jakarta

Tel: 021-7822057
Fax: 021-7804836

PT Meta Archipelago Hotel (Martel),
Gedung Medco
Jl. Ampera Raya No. 18 - 20
Jakarta Selatan
DKI Jakarta

Tel: 021-7822057
Fax: 021-7804836

Website: www.martel.co.id